12 Aug 2005 3 Comments
Ciwidey, Sejuta Keindahan Alam
jalan-jalan berikutnya adalah ke ciwidey, bandung selatan, bersama dengan karyawan muda sebuah grup perusahaan media ternama di indonesia, tentu bersama my beloved ari. mencoba memulai untuk memaknai setiap jalan2…

Entah berapa kali aku mengunjungi tempat wisata. Tetapi rasanya kali ini beda. Bukan karena perjalanan yang nyaman, bersama teman-teman yang baru kenal ataupun karena dengan orang tersayang. Aku merasakan perjalanan kali ini awal perjalanan ketika aku mencoba memaknai lebih jauh hidupku.
Sudah lama larut dalam pekerjaan, aktifitas sosial, dan segala rutinitas membuat aku ingin sesekali mencoba melakukan aktifitas alternatif. Jalan-jalan. Nggak perlu terlalu mahal, gak perlu di tempat yang mewah, sukar dijangkau, karena aku yakin setiap tempat menyimpan keindahan.
Kenapa lain, karena aku mulai untuk secara sengaja memaknai perjalananku, mencerap apa saja yang bisa akulihat, mengabadikan pengalaman itu dalam suatu coretan dan mengikat makna dengan tulisan. Tambahan pula dengan peralatan fotografi secukupnya, aku ingin melengkapi coretan perjalanan itu dengan menangkap cahaya alias fotografi.
Ciwidey, persiapan
Jalan-jalan kali ini aku ke Ciwidey. Belum pernah kesana, kebetulan teman dari milis fotografi indonikon menawarkan undangan tersebut. Sekalian hunting bersama, apalagi ada peristiwa meteor Geminid, dimana lagi kalau nggak di pegunungan dengan udara yang bersih untuk bisa mengabadikannya. Di Jakarta meski di puncak gedung tertinggi pun jangan harap bisa melihat meteor itu, tentu karena polusi dan sinar gemerlap metropolitan mengalahkan cahaya bintang dan meteor.
Tak tahu medan, memacuku mencari-cari info di internet. Lumayan banyak ternyata. Yang pasti, gambaranku setelah berselancar di internet adalah Ciwidey itu identik dengan daerah dingin, pegunungan, dan kebun teh. Yang aku baca dari catatan2 perjalanan, mereka semua terpesona, kagum, dan puas. Entah, mungkin kalau yang nggak puas atau merasa biasa saja nggak menulis catatan perjalanan mereka.
Berangkat dari Jakarta pukul 11 malam, menghindari macet, dan tentu saja memberikan toleransi budaya terkenal seantero jagat dari Indonesia; jam karet! Berangkat menggunakan bus 3/4 sewaan bersama rombongan karyawan muda dari sebuah perusahaan media terbesar di indo.
Berangkat selarut itu memerlukan konsentrasi extra terutama sopir, teman di depan paginya cerita sengaja mengajak ngobrol sopir, meski biasanya ada larangan berbicara dengan sopir. Kekecualian tentnu kalau sopir sudah mulai mengantuk, “Masih jauh, Mas.” Hehe pertanyaan basa-basi yah. Tapi obrolan ini menyelamatkan penumpang yang banyaknya sekitar 25 orang. “Ya sudah mas, kalo capek berhenti istirahat aja sebentar..” Meski begitu bus tetap melaju, mengantar penumpang yang lebih banyak sedang menikmati mimpi. Termasuk aku. Tak terganggu musik yang disetel cukup kencang, terutama ketika mampir di pom bensin.
[untuk klub indonikon] Menarik untuk dicatat, perjalanan ini diawali karena pertemanan di milis. Tanpa pernah temu muka, bahkan tanpa pernah ngobrol sebelumnya. Dimulai dari minat yang sama tentang fotografi, menjadi jalan-jalan bersama, dan yang lebih penting, awal dari persahabatan. Fotografer sedunia bersatulah! ;-pSitu Patenggang
Perjalanan mulus melalui tol menuju bandung selebihnya nggak tahu karena lebih asyik menikmati mimpi. Sampai di tempat di lapangan parkir samping pondok tempat bermalam semuanya lewat aspal yang terpelihara. Agak hati-hati saat menjelang tujuan karena kabut tebal mengepung bus.Sepanjang perjalanan, di kiri dan kanan jalan menuju tempat ini melewati kebun teh Rancabali milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Jabar. Ada 13 perkebunan yang terdapat di lokasi ini, yaitu Cigombong, Bintang, Cibuti, Patuha, Landen, Sinumbra, Cirata, Rancasuni, Talaga, Patengan, Patuhawati, Rancabolang, dan Dewata.
Telaga Patengan, begitu tertulis di plang sekitar lokasi, tapi ada yang menyebut juga sebagai Situ Patenggang. Telaga itu dikelilingi oleh kebun teh. Pondok tempat istirahat sekaligus tempat bermalam pas terletak di pinggir telaga. Terdapat banyak warung makanan di sekitar tempat parkir dan pondok. Saat tiba jam masih menunjukkan pukul 04.30 dinihari. Malam sangat pekat bahkan telaganya pun tak terlalu terlihat. Hawa dingin menusuk tulang menembus jaket. Teman2 segera masuk ke pondok dan berbagi kamar. Ada 3 kamar di pondok tersebut. Ada ruangan bersama yang cukup besar plus perapian. Di depan ada teras dengan kursi sofa menghadap ke telaga. Sungguh nyaman menunggu matahari terbit sambil duduk2 di teras dan menikmati keindahan kabut yang menyelimuti permukaan telaga. Pelan-pelan tampak telaga patengan dengan pulau di tengah-tengahnya. Tampak pula beberapa perahu hias dengan warna2 cerah dan perahu pedal di pinggir telaga menanti penumpang yang ingin berkeliling telaga.
Sayang keadaan kamarmandi tidak terlalu bersih, dengan airnya yang keruh pula. Untuk toilet pun tidak tersedia sehingga harus ke belakang di WC umum yang airnya malahan lebih bersih.
Di tengah danau ada pulau kecil dan situs batu cinta. Di Situ Patengan beredar sebuah legenda bermula dari sepasang kekasih yang terpisah lama dan saling mencari (Sunda: pateangan-teangan). Lalu mereka bertemu di telaga yang akhirnya diberi nama telaga patengan di kaki pegunungan Patuha. Di sebuah situs bernama Batu Cinta, mereka saling mengikat janji menjadi suami istri abadi.
Legenda ini entah sengaja atau tidak, menjadikan dayatarik tersendiri terutama bagi pasangan remaja. Mereka menyeberang ke pulau di tengah telaga dan menyampaikan permohonan supaya dijadikan pasangan abadi. Cukup dengan biaya perorang Rp. 5000 atau kalau borongan dalam satu kapal untuk rombongan bisa lebih murah jatuhnya. Ada juga beberapa pasangan yang memilih menikmati telaga sambil duduk-duduk di batu sekitar telaga, seorang teman iseng menjajal lensa tele-zoomnya memotret keceriaan mereka dari kejauhan.
Pagi itu, bagi fotografer paling tepat adalah hunting. Mencari tempat yang indah untuk diabadikan. Tempat di sekitar telaga mempunyai banyak keunikan, mulai pemandangan telaga, pepohonan, matahari terbit, perkebunan teh, perahu-perahu, dan pemandangan yang diliputi kabut.
Sinar matahari pagi perlahan memancar dari balik pegunungan dan awan mengiris udara dingin. Perlahan langit biru menyeruak kabut. Saat yang indah untuk memotret dengan latar langit biru bersih.
Bagi yang mau memotret human interest juga dapat melakukan hunting di pasar yang menjual makanan, buah, oleh-oleh, pakaian dan perlengkapan melawan udara dingin, dan aktifitas keseharian orang-orang di kebun teh.
Kawah Putih
Pukul 10.00 kami mulai berangkat menuju Kawah Putih yang merupakan salahsatu Kawah Gunung Patuha yang pernah meletus pada abad XIII. Dulunya, lokasi ini tidak pernah dianggap sebagai tempat yang memiliki potensi wisata oleh masyarakat di sekitarnya. Bahkan sebaliknya, dianggap angker sehingga tidak ada seorang pun yang mengira bahwa tempat tersebut memiliki potensi wisata yang indah.
Tahun 1837, seorang Belanda peranakan Jerman Franz Wilhelm Junghun mengadakan perjalanan ke daerah Bandung selatan. Ketika tiba di kawasan tersebut, Junghun merasakan suasana yang sunyi. Tak seekor binatang pun yang melintasi daerah itu. Ia kemudian bertanya pada penduduk dan memperoleh jawaban bahwa daerah tersebut angker karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur serta merupakan pusat kerajaan bangsa jin.
Namun, Junghun tidak mempercayai cerita tersebut begitu saja. Ia melanjutkan perjalanan menembus hutan untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum sampai di puncak gunung Junghun menemukan keindahan alam yang berada di hadapannya berupa danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehijauan. Dari danau tersebut menyembur lava dan bau belerang yang menusuk hidung yang merupakan jawaban mengapa burung-burung tidak mau terbang melintasi daerah tersebut.
Saat masuk daerah wisata ini sudah akan menjumpai Tuloisan besar bertulis Kawah Putih. Untuk mencapai puncak pun pengelola menyediakan angkutan. Ongkos masuk Rp. 3000, untuk angkutannya perorang Rp. 3000. Angkutannya mirip angkot, dengan tiga bangku berjajar menghadap ke depan semua tanpa sekat di sebelah kanan kiri dan belakang. Perjalanan menuju ke puncak melalui aspal yang cukup mulus dengan kanan-kiri pemandangan yang indah. Sang sopir mengemudikan kendaraan dengan cukup kencang melewati hutan dan tepi jurang tanpa kuatir.
Sampai di atas kami mendapati beberapa bangunan, ada mushola, dan daerah tersebut cukup bersih. Ada tulisan yang lebih banyak mengulas legenda dan mitos tentang Kawah Putih. Untuk menuju Kawah tersedia tangga mendaki dan turun. Wah.. sesampai di kawah, benar-benar kami terpana dengan pemandangan yang unik. Kawah dengan danau yang airnya berwarna kehijauan, dengan uap putih yang mengepul melingkupi daerah sekitarnya. Ketika kami mendekat uap putih itu ternyata membawa bau belerang yang menyengat. Banyak teman yang terbatuk-batuk karenanya. Mulailah teman2 fotografer mengambil tempat foto. Menantang sekali mengeksplore pemandangan yang ada. Banyak objek unik yang pantas diabadikan. Di latar belakang terdapat tebing batu yang menjulang tinggi. Sementara langit saat itu cerah bersinar dengan panasnya yang menyengat.
Agak susah ketika ingin mengambil gambar kawah secara keseluruhan karena kontrasnya cahaya yang menerpa kawah dengan tebing yang tampak gelap. Tapi itu tidak menghalangi teman-teman menyebar dan berjalan menyusuri danau mencari objek cantik. Pasir yang putih dan berubah kehijauan ketika semakin dekat dengan kawah merupakan keunikan tersendiri. Ada pohon yang dekat sekali dengan kawah, hidup sendiri tanpa kehidupan lain di sekitarnya. Menyembul beton-beton bekas pertambangan belerang pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang.
Masih di area kawah, terdapat gazebo yang bisa menjadi tempat berkumpul berbincang. Kalau tak sempat membawa kamera, ada juga orang-orang yang menawarkan foto langsung jadi. Saat itu banyak juga ternyata rombongan wisatawan yang datang menuju Kawah. Setelah berfoto-foto ria bersama, kami pulang. Angkutan dari pengelola sudah menunggu dan segera meluncur kembali ke pintu masuk tempat wisata tersebut.
Bumi Perkemahan dan Penangkaran Rusa Ranca Upas
Tak jauh dari Kawah Putih, terdapat Bumi Perkemahan dan Penangkaran Rusa. Di sini kami sebenarnya ingin melihat rusa sekaligus makan. Tetapi ternyata rusa yang ada tinggal 13 ekor menurut keterangan penunggu warung. Bumi perkemahan ini sering menjadi tempat tujuan kampus, sekolah, atau kelompok yang mengadakan perkemahan selama beberapa hari terutama sewaktu musim liburan.
Saat itu ternyata rusa spesies cervus timorensis yang terancam punah itu susah terlihat. Tampak di kejauhan mereka sedang makan rumput dan berbahagialah fotografer yang mempunyai lensa tele, karena hanya dengan lensa tele itu mereka dapat mengambil foto rusa dengan jelas. Di komplek tersebut terdapat deretan warung yang menjual makanan, minuman dan perlengkapan menghadapi hawa dingin. Mereka juga menyewakan tenda untuk orang yang berkeinginan berkemah. Tampak sesekali angkot kuning jurusan Ciwidey lewat. Jadi transportasi untuk menuju ke kawasan wisata ini sebenarnya tidak terlalu sulit kalau kita memilih menggunakan kendaraan umum.
Kami sempat merasakan bandrek yang dijual disitu. Bandrek merupakan minuman khas Ciwidey yang terbuat dari aren. Selain dijual yang siap minum di cangkir dihidangkan secara hangat, dijual pula yang botolan sehingga bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Pemandian Air Panas Walini
Rute terakhir jalan-jalan hari ini adalah pemandian air panas. Sebenarnya ada beberapa pemandian air panas di daerah sekitar Ciwidey. Tapi katanya paling nyaman untuk berendam adalah di Walini ini karena airnya tidak sepanas sumber yang lain.
Dibarengi dengan hujan rintik-rintik hampir semua memutuskan untuk berenang. Udara dingin terasa sekali setelah keluar dari berendam. Di sebelah kolam juga disediakan tempat membasuh badan yang airnya juga air hangat.
Perkebunan Strawbery
Sebelum pulang, kami mampir di perkebunan strawbery yang ada di jalan menuju Telaga Patengan, tempat pondok peristirahatan. Disitu tertera harga Rp. 40.000 perkilo memetik sendiri. Dihitung-hitung, agak mahal memang dibanding orang-orang di sekitar pemandian yang menawarkan strawbery yang sudah dibungkus plastik. Seribu rupiah perbungkus kecil. Mungkin tempat itu menawarkan pengalaman memetik sendiri strawberry tersebut sehingga merupakan pengalaman unik tak terlupakan yang nanti bisa diceritakan sepulang dari wisata.
Selanjutnya kami semua kembali ke Pondok di tepi telaga Patengan, ada yang langsung istirahat, ada yang memilih berjalan-jalan di kebun teh termasuk aku. Sejauh mata memandang adalah perkebunan teh di sekeliling Telaga Patengan itu. Malam kami membuat acara bersama, intinya perkenalan. Setelah itu besoknya setelah makan pagi kami pulang ke Jakarta. Sedikit melewati kemacetan di Bandung, disusul hujan sangat deras selewat Bandung. Adanya jalan tol yang akan dibuat mungkin memicu banjir lumpur. Kami sempat mampir di rumahmakan khas Sunda di pinggir jalan. Setelah itu menuju Jakarta dan berakhirlah jalan-jalan di daerah Palmerah.
Capek, tapi sungguh tak terasa dibanding pengalaman yang diperoleh. Bukan hanya melepas kejemuan, tapi juga timbul rasa syukur atas keindahan alam. Masih ada secuil harapan suasana kedamaian di Ciwidey. Semoga secuil kedamaian itu menular ke Jakarta…
#budipru
Desember 2004
Jul 05, 2006 @ 15:46:54
Saya indy dari Gama Service Management, berencana akan mengadakan Tour ke Ciwidey bersama 158 karyawan. Bisa minta tlg dikirim ittenararynya. Acara tgl 28,29,30 Juli. Berangkat tanggal 28 pagi pulang 30 sore.Tlg bls segera. Thx
May 21, 2008 @ 16:20:24
aku juga pengen ke ci widey,, tapi kapaaaaaaaaaaaaaan yah?
May 21, 2008 @ 16:28:50
buat teteh (LIGHTING),,, kapan berencana mau ke ciwidey… ajak-ajak yeuh…