Jogja, Never Ending Asia

mengawali blog ini, aku menayangkan coretan2 yang pernah aku tayangkan. sayang kalau dilupakan. cerita tentang jalan-jalanku ke jogja dan sekitarnya, kota yang bernuansa etnik.

jogja
Senin, 20/12/04. Malam itu hujan, ikut mengantarku menuju Jogja, bersama yayangku Menuju stasiun Senen, untung meski hujan jalanan tak terlalu macet. Pas sampai di peron, kereta sudah kelihatan. Tak seperti di Harry Potter yang harus menembus tembok, aku langsung aja masuk ke kereta. Tak terlalu penuh. Segera koran bekas yang aku bawa dari rumah digelar dibawah. Buat alas kaki biar santai dan klo bisa buat tidur nanti malam.

Kereta berangkat tepat waktu. Pengamen, pengemis, dan pedagang asongan sibuk melakukan pekerjaannya. “Nasi ayam.. nasi ayam, senter murah.. senter murah.., koran.. koran..” pokoknya segala macam barang dagangan berseliweran. Pengemis yang menengadahkan tangan tanpa kata tapi dengan sinar mata penuh kata berharap belaskasih, serasa tak habis-habisnya selama perjalanan. Dari yang dekil sampai yang berbaju bersih, dari yang sehat segar bugar tapi dengan wajah memelas sampai yang jalannya harus mengesot di lantai seolah bersaing merebut simpati.

Malam semakin larut, pedagang berkurang sedikit. Sedikit memang. Lumayanlah, ada kesempatan tidur di bawah meluruskan kaki tanpa takut terinjak. Pegel juga klo tidur sambil duduk, soalnya kereta akan sampai di Jogja sekitar pukul 6 pagi, berangkat sekitar pk 19. Hmm 11 jam!! Kipas angin di atasku berputar. Syukur, karena seingetku tak selalu kipas itu berputar. Juga tak ada penumpang di sekitar yang merokok. Mungkin sudah pada sadar, merokok mengurangi harapan hidup.. ;-)

Pagi sampai di Stasiun Tugu, Jogja tepat waktu. Orang jualan di pinggir gerbang Stasiun Tugu. Tulisan Jogjakarta di stasiun, jadi bingung, tulisan di depan Stasiun Tugu menyebut JOGJAKARTA, terus tulisan di pintu keluar arah Jl Pasar Kembang menyebut YOGYAKARTA, adalagi sebutan JOGJA (never ending asia). Hmm kota banyak nama varian. Mungkin yang didepan pake ejaan lama kali yee.

Perjalanan lanjut dengan naik becak ke Hotel Selecta di Sosrowijayan, sekitar 10 menit naik becak. Di jalan ini penuh dengan hotel. Mau yang bergaya Jawa, bergaya modern, dikelola secara profesional atau dikelola penduduk ada. Gak tau deh yang berbintang ada gak ya. Memang pilihan yang tepat. Berada di deket Malioboro dan Stasiun Tugu.

Rute pertama jalan2 adalah Malioboro, jalan yang membujur dari Stasiun Tugu sampai keraton. Pedagang emperan tokonya sudah siap di pagi itu pk 10 menggelar berbagai jenis dagangan cenderamata. Papan-papan peringatan untuk berhati-hati terhadap copet banyak dipasang di sepanjang jalan. “Ati-ati lho dompet dan kameranya”. Tas dan dompetpun ditaruh di saku depan sambil memegangi dengan waspada sepanjang jalan. Kenapa pk 10 mulai jalan2? Karena tujuannya ke Mirota Batik untuk mengambil peta wisata Jogja Gratis;)

Jalan malioboro, menurut beberapa sumber berasal dari nama Duke of Marlborough, seorang bangsawan Inggris yang pernah menduduki Jogja tahun 1812. Nyebrang di Jogja semakin susah, motor berkuasa, ati-ati klo di jakarta bajaj berkuasa di jalanan, nah disini sepeda motor.

Pasar Beringharjo
Tujuan selanjutnya adalah Pasar Beringharjo. Pasar textil, batik, dan makanan kecil Jogja.
Hingga hari ini, letak Pasar Beringharjo, yang juga dikenal dengan sebutan pasar lor (utara) atau pasar gedhe, karena memang menjadi “pusat pasar” di Yogyakarta, berada di kawasan Maliboro dan amat dekat dengan pintu masuk alun-alun utara, Kraton Ngayogyakarta. Menurut cerita, pasar ini didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, berasal dari nama Beringan sebuah hutan asal mula kota Jogja didirikan. Pintu pasar yang menghadap Jalan Jendral A. Yani diyakini masih serupa aslinya sejak pertama kali dibangun walau sudah melalui beberapa kali pemugaran.
Jalan2 di Pasar, ya namanya pasar maka lebih tepatnya belanja. Yang banyak diperjualbelikan adalah bahan sandang, terutama batik. Harus pinter nawar lah. Kayaknya asik juga bertawar-tawaran dengan mbok-mbok bakul pakaian itu, apalagi klo dengan bahasa jawa.
“Bu, kain rok niki reginipun pinten”
“O, niku kalih doso ewu nak, niku sae lho kainipun, lek sing biasa niku, saget luwih murah”
“wah, larang temen to bu, wis rolas ewu mawon nggih”
“dereng pareng nak, pun badhe tumbas pinten to”
“kulo badhe mendhet limo lo bu”
“yo wis limolas ewu pun, monggo, kangge penglaris”
“wah tesik kelarangen bu, pokoke rolas setengah mawon nggih, pareng nopo mboten, menawi mboten kulo boten sido lo”
“pun, njenengan nawar pinten, la kulo pun kulo dhunake regane, mosok njenengan mboten diunggahke, ben pas to, mangke saged ketemu.”
“tigo welas, pas, kulo mendhet limo nek pareng”
Akhirnya dengan perjuangan tersebut berhasillah didapat kain rok pesenan temen2 Yayang, hehe.. (padha ngerti artinya gak yah)

Selanjutnya sambil menunggu temen dan istirahat setelah capek berjalan-jalan, kami sepakat dulu untuk istirahat kembali ke hotel, hotel yang memang dimaksud untuk persinggahan sementara tempat tas kami. Dalam perjalanan pulang sempat melewati beberapa mural yang marak di kota Jogja. Mural memang marak menggantikan grafiti yang sebelumnya mengurangi keindahan dengan tulisan seadanya dengan nama2 genk setempat ato makian anti orba.. QZR..

Taman Sari
Perjalanan selanjutnya dengan bantuan peta dari Mirota adalah Taman Sari. Peta tersebut sangat membantu. Kami berempat bisa menuju Taman Sari yang ternyata sedang direnov, Perut yang laper cukup diisi bakso dan mi rebus telor di sebelah tempat wisata daripada mencari restoran yang takutnya makan waktu lebih lama lagi. Letak Taman Sari ini di sebelah barat keraton. Malioboro terus arah keraton, belok kanan, terus belok kiri sampai ujung adalah Pasar Burung Ngasem. Taman Sari terletak di belakang Pasar Ngasem.

Sebenernya waktu mau masuk sih agak2 bingung gitu, habis gapura depan masih dipugar dan banyak orang, klo difoto sih kurang asik aja. Warnanya juga terkesan baru, jadi gak mengesankan bangunan sejarah yang tua.

Setelah membayar tanda masuk, kami berempat langsung disambut dan disertai oleh pemandu yang menerangkan seelukbeluk tamansari dengan lancarnya. Bicaranya cepet banget, padahal yang dijelasin banyak, sudah hapal kali yee.

Tahun pembuatan taman ini seperti yang dilambangkan oleh empat ekor naga yang saling berhadapan dalam chandrasengkala berbunyi Catur (4) Naga(8) Rasa(6) Tunggal(1) yang berarti 1684 tahun Saka yaitu sekitar tahun 1751 Masehi. Itu diungkapkan kali pertama pemandu mulai menjelaskan segala hal tentang Taman Sari. Taman Sari dibangun oleh Sultan HamengkuBuwono I atau Pangeran Mangkubumi bersamaan dengan Keraton Yogyakarta. Diceritakan adanya tempat pemandian permaisuri dan selir juga anak2 raja. Memang Taman sari ini dibangun sebagai tempat peristirahatan dan tempat selir dan putra2 raja karena kalau semuanya ditampung di Kraton tidak akan cukup. Aku lupa tepatnya tapi yang jelas lebih dari 10 selir waktu itu yang tinggal di Taman Sari atau Istana Air ini. Disebut Istana air karena mulanya memang terdapat air di sekeliling bangunan induk. Bangunan tersebut dimaksudkan sebagai benteng pertahanan unik yang konon mempunyai lorong menghubungkan dengan Kraton dan Laut Selatan.
Uniknya setiap pintu dibuat rendah yang dimaksudkan agar secara tidak langsung orang yang masuk ke suatu ruangan langsung merunduk atau mengambil sikap sembah. Ini dimaksudkan untuk mengingatkan agar orang termasuk raja selalu rendah hati. Bangunan yang mulanya luas itu sekarang dikelilingi rumah-rumah abdi dalem sejak Sultan HB VIII, dengan syarat hanya dipinjamkan oleh Keraton, dan tetap menjadi milik Keraton.
Di dalam terdapat juga hasil kerajinan batik bermotif macam-macam. Lukisan tersebut ditawarkan kepada pengunjung yang katanya banyak orang asing yang tertarik karena harganya yang relatif murah.

Sumur Kitiran Mas
Di perjalanan temen cerita tentang Sumur Kitiran Mas di Gereja Maria Assumpta Pakem. Siapa yang pingin dapet jodoh.., minum dan cuci muka dengan airnya tuh. Dan langsung saja ada yang tertarik untuk mencoba. Akhirnya kami berhenti sejenak di Gereja Pakem untuk menemani kedua teman yang bujangan ini hehe.. (kayaknya mereka berdua jadi pasangan aja kali ye..) yang lainnya ikut juga dink.. untuk mendapat peneguhan katanya.
Sumur itu ternyata terletak di dalam Gereja di depan di samping sebelah kiri altar. Sesuai dengan prasasti marmer yang ada di dekat Sumur tertulis “Sumber tinemu: Oktober 1985, Binerkahan enggal: Minggu Pon, 14 Oktober 2001″.

Makan Malam Lesehan
Beberapa saat dari Gereja, melewati beberapa rumah makan lesehan, sayang namanya lupa. Kami makan di atas kolam ikan mas. Tersedia karaoke yang sayangnya tidak bisa digunakan dengan baik. Di bawah tempat makan itu, tampak banyak ikan mas yang mengumpul ketika cuci tangan, seolah mengharap makanan jatuh ke kolam. Sayang, hujan membuat sebagian tempat lesehan basah, tampak pula bocor disana-sini. Makanan tersedia tak terlalu lama setelah pesan. Lapar memang lauk yang enak tapi memang sih lauknya juga enak. Semua makan dengan lahap. Ada Kakap, udang saus tiram, trancam, lalapan, sambel, kangkung, dengan nasi hangat.
Makan sambil ngobrol sehingga makan waktu yang lama tapi tak terasa. Enak tur murah, itu yang terbersit ketika membayar.

Wisata Jogja memang menawarkan kedamaian suasana, keindahan etnik, tanpa perlu menguras banyak isi kantong ;)

Salam damai
Selamat Natal,
Selamat Tahun Baru,
Doa untuk saudara2 kita di Aceh