Defiance – Kekuatan untuk Bertahan

defiance

Batal nonton “Republik Petruk”-nya Teater Koma, aku dan suami meluncur ke Hollywood KC 21. Bioskop ini berjarak tempuh 15 menit dari tempat tinggal kami. Kami sepakat nonton film “Defiance” yang diputar midnight pada Sabtu (24/1) lalu.

Film ini berdasarkan pengalaman luar biasa dari Bielski bersaudara yang adalah keturunan Yahudi. Pada masa Perang Dunia II (1941-1945), terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang Yahudi oleh tentara Nazi Jerman pimpinan Hitler. Tidak terkecuali keluarga Bielski di Belarusia yang diduduki tentara Jerman. Ribuan orang telah mati, tapi tentara Nazi masih bernafsu untuk memburu dan membunuh yang tersisa.

Tuvia Bielski (Daniel Craig) mendapati orangtuanya tewas dibunuh tentara Nazi dan Belarusia yang menjadi antek Nazi. Bersama Zus Bielski (Liev Schreiber) dan Asael Bielski (Jamie Bell), Tuvia melarikan diri ke hutan. Di sana mereka bertemu dengan sekelompok orang Yahudi yang kabur dari ghetto. Karena iba, Tuvia menolong dan mengajak mereka bergabung bersamanya.

Setelah mendapatkan tempat yang cocok di tengah hutan, mereka membuat kamp. Untuk makan sehari-hari, mereka meminta atau jika terpaksa merampok yang memiliki persediaan bahan makanan. Tidak hanya makanan, mereka juga mengumpulkan senjata. Senjata-senjata itu akan digunakan untuk melawan.

Dengan pistol yang didapat Tuvia dari teman ayahnya, ia membunuh seorang kepala polisi dan tiga anak buahnya di hadapan istri kepala polisi itu. Tindakan ini dilakukan Tuvia sebagai balas dendam atas kematian orangtuanya. Namun ia sadar hal itu tidak mengembalikan nyawa mereka, malah melukai orang lain yang kehilangan orang-orang kesayangan mereka.

Dengan melakukan kekerasan, ia merasa dirinya sama dengan tentara Jerman yang biadab itu. Sayangnya, hal ini tidak diungkapkan dengan jelas saat ia berdebat dengan Zus. Menjadi agak ganjil seorang yang baru saja menghabisi nyawa pembunuh orangtuanya mengambil sikap yang bertentangan dengan yang dilakukannya itu.

“Meskipun kita diburu seperti binatang, janganlah kita bertindak seperti binatang,” tegas Tuvia. Karena prinsip itu, ia tidak mau menjadi petarung dan bergabung sebagai partisan Rusia (gerilyawan Rusia melawan Nazi) seperti kakaknya, Zus. Zus tidak ingin diam saja dan bersembunyi di hutan. Ia malah ingin menghabisi tentara Jerman supaya bisa kembali hidup bebas.

Makin lama makin banyak pelarian Yahudi yang bergabung bersama Tuvia. Dengan begitu, makin banyak makanan yang diperlukan padahal semakin sulit untuk mendapatkannya. Bahkan gara-gara ulah pria tua yang dimintai susu oleh kelompok Tuvia, tentara Belarusia menyerang kamp. Beruntung Tuvia bisa dengan mudah mengusir mereka keluar dari hutan.

Sebagai pemimpin, Tuvia memberlakukan peraturan larangan hamil. Ia merasa tidak bisa menanggung hidup seorang bayi selama pelarian. Namun sensitivitas peri kemanusiaannya kembali digugah oleh kelahiran bayi seorang perempuan yang diperkosa tentara Jerman. Walaupun hidup semakin berat, ia tetap menjaga hak untuk hidup bagi bayi itu.

Bukan hanya itu, kehidupan di kamp juga menorehkan banyak kisah. Saat musim dingin tiba dan mereka kekurangan makanan, beberapa orang merasa berhak mendapatkan makanan lebih karena menjadi petarung. Bahkan mereka menolak kepemimpinan Tuvia yang saat itu jatuh sakit. Beruntung Zus membawakan obat-obatan bagi adiknya dan beberapa anggota kelompok yang terserang typhus.

Selain itu, film ini menyelipkan romantisme yang dialami Zus, Tuvia, dan Asael. Asael menikahi seorang perempuan muda yang sungguh-sungguh mencintainya. Sementara penghuni kamp berpesta merayakan pernikahan Asael, Zus bersama kelompok Rusia menyerang tentara Jerman dan melucuti senjata mereka.

Sadar ia hanya diperalat oleh tentara Rusia yang ternyata mau membiarkan kamp Yahudi sebagai korban keganasan Nazi, Zus berencana kabur dan membantu kamp yang dipimpin adiknya. Kamp hancur dibombardir pesawat tentara Jerman. Penduduk kamp kabur menyeberangi rawa-rawa hingga menemukan daratan lagi. Peristiwa ini mengingatkan akan kisah Musa yang membawa orang-orang Israel kabur dari Mesir dan membelah lautan supaya bisa dilewati.

Sesampainya di daratan, mereka disambut serangan tentara Jerman. Namun Zus dan kawan-kawan tiba-tiba muncul membantu mereka saat mereka benar-benar terpojok akibat serangan itu. Perjalanan dilanjutkan dan mereka kembali membangun kamp di hutan. Mereka mampu bertahan setelah dua tahun kemudian bertepatan dengan kekalahan Nazi dan mengakhiri pelarian mereka. Saat itu penduduk kamp semakin bertambah hingga seribuan orang.

Zus dan Tuvia membangun bisnis di New York hingga tiga puluh tahun kemudian. Mereka tinggal di sana setelah menikah dengan teman satu kamp di hutan, sepeninggal istri mereka yang dibunuh tentara Jerman. Terhadap perjuangan keluarga Bielski menyelamatkan ratusan orang ini, pemerintah tidak pernah memberikan penghargaan yang layak bagi mereka.

Sebagai sebuah film kisah nyata yang berisi nilai-nilai keluarga, kehormatan, balas dendam, dan pengorbanan, Defiance layak ditonton. Film berdurasi 120 menit ini membuatku tak sempat berkedip karena tak ingin ketinggalan satu adegan atau satu dialog pun. Oya, gara-gara film ini, aku jadi suka sama Daniel Craig.