Tak Ada yang Tahu Takdirmu

 

curious_case_of_benjamin_button1

Setiap orang itu unik. Ada yang menjadi balerina. Ada yang menjadi tukang jam. Ada yang menjadi pengasuh di panti jompo. Ada yang menjadi pengusaha kancing. Ada yang menjadi kapten kapal. Dan ada yang menjadi kelasi kapal. Semua tergantung dengan takdir dan pilihan hidup seseorang.

 

Selain unik, tidak ada seorang pun yang tahu takdir dirinya maupun takdir orang lain. Tidak kartu tarot, bola kaca, dan tidak juga paranormal. Siapa sangka Benjamin Button yang dilahirkan dalam kondisi fisik manusia berumur 80 tahun menjadi semakin muda seiring bertambahnya usia hingga akhirnya mati dalam badan seorang bayi?

 

Bagaimana seseorang menjadikan hidupnya membanggakan itu merupakan pilihan. Pilihan orang itu untuk menjadi yang terbaik atau sebaliknya, yang terburuk. Ketika kita sudah memilih sesuatu, tidak ada kata mundur atau kembali ke waktu sebelumnya. Semua orang harus bergerak maju dan berani menjalani setiap konsekuensi atas pilihan yang diambilnya.

 

Meskipun Benjamin Button mengalami fase terbalik –semakin tua usia, semakin muda badannya-, ia tidak patah semangat dan terkungkung dalam kondisinya itu namun ia tetap berusaha membuat hidupnya menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia bekerja sebagai kelasi kapal dengan sepenuh hati, mencintai hanya seorang wanita hingga akhir hayatnya, dan memberikan segalanya bagi orang-orang yang ia cintai.

 

Demikian kira-kira yang ingin disampaikan oleh film “The Curious Case of Benjamin Button”. Beberapa detil adegan terasa membosankan hingga aku sempat tertidur pada pertengahan film yang berdurasi 2,5 jam ini. Mungkin juga karena aku memang tak kuat menahan kantuk karena aku menonton pertunjukan midnight Sabtu (14/2) lalu ya….