18 Feb 2009 1 Comment
Tak Ada yang Tahu Takdirmu

Setiap orang itu unik. Ada yang menjadi balerina. Ada yang menjadi tukang jam. Ada yang menjadi pengasuh di panti jompo. Ada yang menjadi pengusaha kancing. Ada yang menjadi kapten kapal. Dan ada yang menjadi kelasi kapal. Semua tergantung dengan takdir dan pilihan hidup seseorang.
Selain unik, tidak ada seorang pun yang tahu takdir dirinya maupun takdir orang lain. Tidak kartu tarot, bola kaca, dan tidak juga paranormal. Siapa sangka Benjamin Button yang dilahirkan dalam kondisi fisik manusia berumur 80 tahun menjadi semakin muda seiring bertambahnya usia hingga akhirnya mati dalam badan seorang bayi?
Bagaimana seseorang menjadikan hidupnya membanggakan itu merupakan pilihan. Pilihan orang itu untuk menjadi yang terbaik atau sebaliknya, yang terburuk. Ketika kita sudah memilih sesuatu, tidak ada kata mundur atau kembali ke waktu sebelumnya. Semua orang harus bergerak maju dan berani menjalani setiap konsekuensi atas pilihan yang diambilnya.
Meskipun Benjamin Button mengalami fase terbalik –semakin tua usia, semakin muda badannya-, ia tidak patah semangat dan terkungkung dalam kondisinya itu namun ia tetap berusaha membuat hidupnya menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia bekerja sebagai kelasi kapal dengan sepenuh hati, mencintai hanya seorang wanita hingga akhir hayatnya, dan memberikan segalanya bagi orang-orang yang ia cintai.
Demikian kira-kira yang ingin disampaikan oleh film “The Curious Case of Benjamin Button”. Beberapa detil adegan terasa membosankan hingga aku sempat tertidur pada pertengahan film yang berdurasi 2,5 jam ini. Mungkin juga karena aku memang tak kuat menahan kantuk karena aku menonton pertunjukan midnight Sabtu (14/2) lalu ya….
Jul 04, 2009 @ 13:28:20
Membaca tulisan anda mengenai “Tak ada yang tahu takdirmu” dengan contoh ulasan dari film The curiouse case of the Benjamin Button membuat saya merenung dan melihat perjalanan hidup saya dari kecil hingga sekarang. Memang tidak ada satupun yang tahu takdir kita, namun impian dan cita – cita juga berperan dalam menghantarkan kita meraih apa yang ingin kita gapai dalam hidup. Saya tidak menyangka bahwa kecintaan saya pada bahasa Inggris dan impian saya untuk mengetahui dunia Eropa menghantarkan saya pada jalan hidup saya yang sekarang. Tinggal dan menetap di Inggris, membaur dan beradaptasi dengan budaya setempat. Besar di sebuah desa kecil dengan masyarakat yang sederhana di Blitar dan terdampar di kota besar tak jauh dari London dengan standar hidup masyarakatnya yang tinggi dan modern. Takdir juga mengahantarkan saya pada cita – cita saya untuk bisa melayani sesama dengan bekerja di public sector mulai dari pendidikan hingga sebuah penjara untuk rehabilitasi para nara pidana sebelum mereka kembali ke masyarakat. Sungguh perjalanan hidup yang perlu saya syukuri setiap saat.:-)