<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pruwanto.com &#187; resensi</title>
	<atom:link href="http://pruwanto.com/category/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pruwanto.com</link>
	<description>Our Pilgrimage</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 01:15:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tak Ada yang Tahu Takdirmu</title>
		<link>http://pruwanto.com/2009/02/tak-ada-yang-tahu-takdirmu/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tak-ada-yang-tahu-takdirmu</link>
		<comments>http://pruwanto.com/2009/02/tak-ada-yang-tahu-takdirmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 03:52:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[benjamin buttons]]></category>
		<category><![CDATA[resensi film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pruwanto.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[  Setiap orang itu unik. Ada yang menjadi balerina. Ada yang menjadi tukang jam. Ada yang menjadi pengasuh di panti jompo. Ada yang menjadi pengusaha kancing. Ada yang menjadi kapten kapal. Dan ada yang menjadi kelasi kapal. Semua tergantung dengan takdir dan pilihan hidup seseorang.   Selain unik, tidak ada seorang pun yang tahu takdir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="float: left; margin-right: 5px; margin-bottom: 5px;"><img class="alignleft size-full wp-image-101" title="curious_case_of_benjamin_button1" src="http://www.pruwanto.com/wp-content/uploads/2009/02/curious_case_of_benjamin_button1.jpg" alt="curious_case_of_benjamin_button1" width="197" height="320" /></div>
<p>Setiap orang itu unik. Ada yang menjadi balerina. Ada yang menjadi tukang jam. Ada yang menjadi pengasuh di panti jompo. Ada yang menjadi pengusaha kancing. Ada yang menjadi kapten kapal. Dan ada yang menjadi kelasi kapal. Semua tergantung dengan takdir dan pilihan hidup seseorang.</p>
<p> </p>
<p><span lang="IN">Selain unik, tidak ada seorang pun yang tahu takdir dirinya maupun takdir orang lain. Tidak kartu tarot, bola kaca, dan tidak juga paranormal. Siapa sangka Benjamin Button yang dilahirkan dalam kondisi fisik manusia berumur 80 tahun menjadi semakin muda seiring bertambahnya usia hingga akhirnya mati dalam badan seorang bayi?</span></p>
<p><span lang="IN"><span id="more-97"></span> </span></p>
<p><span lang="IN">Bagaimana seseorang menjadikan hidupnya membanggakan itu merupakan pilihan. Pilihan orang itu untuk menjadi yang terbaik atau sebaliknya, yang terburuk. Ketika kita sudah memilih sesuatu, tidak ada kata mundur atau kembali ke waktu sebelumnya. Semua orang harus bergerak maju dan berani menjalani setiap konsekuensi atas pilihan yang diambilnya.</span></p>
<p><span lang="IN"> </span></p>
<p><span lang="IN">Meskipun Benjamin Button mengalami fase terbalik –semakin tua usia, semakin muda badannya-, ia tidak patah semangat dan terkungkung dalam kondisinya itu namun ia tetap berusaha membuat hidupnya menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia bekerja sebagai kelasi kapal dengan sepenuh hati, mencintai hanya seorang wanita hingga akhir hayatnya, dan memberikan segalanya bagi orang-orang yang ia cintai.</span></p>
<p><span lang="IN"> </span></p>
<p><span lang="IN">Demikian kira-kira yang ingin disampaikan oleh film &#8220;The Curious Case of Benjamin Button&#8221;. Beberapa detil adegan terasa membosankan hingga aku sempat tertidur pada pertengahan film yang berdurasi 2,5 jam ini. Mungkin juga karena aku memang tak kuat menahan kantuk karena aku menonton pertunjukan midnight Sabtu (14/2) lalu ya&#8230;.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pruwanto.com/2009/02/tak-ada-yang-tahu-takdirmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Defiance &#8211; Kekuatan untuk Bertahan</title>
		<link>http://pruwanto.com/2009/01/defiance-kekuatan-untuk-bertahan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=defiance-kekuatan-untuk-bertahan</link>
		<comments>http://pruwanto.com/2009/01/defiance-kekuatan-untuk-bertahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 20:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[resensi film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pruwanto.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Batal nonton “Republik Petruk”-nya Teater Koma, aku dan suami meluncur ke Hollywood KC 21. Bioskop ini berjarak tempuh 15 menit dari tempat tinggal kami. Kami sepakat nonton film “Defiance” yang diputar midnight pada Sabtu (24/1) lalu. Film ini berdasarkan pengalaman luar biasa dari Bielski bersaudara yang adalah keturunan Yahudi. Pada masa Perang Dunia II (1941-1945), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="float: right; margin-left: 5px; margin-bottom: 5px;"><img class="size-full wp-image-93" title="defiance" src="http://www.pruwanto.com/wp-content/uploads/2009/01/defiance.jpg" alt="defiance" width="203" height="275" /></div>
<p>Batal nonton “Republik Petruk”-nya Teater Koma, aku dan suami meluncur ke Hollywood KC 21. Bioskop ini berjarak tempuh 15 menit dari tempat tinggal kami. Kami sepakat nonton film <a href="http://www.imdb.com/title/tt1034303/" target="_blank">“Defiance”</a> yang diputar midnight pada Sabtu (24/1) lalu.</p>
<p>Film ini berdasarkan pengalaman luar biasa dari Bielski bersaudara yang adalah keturunan Yahudi. Pada masa Perang Dunia II (1941-1945), terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang Yahudi oleh tentara Nazi Jerman pimpinan Hitler. Tidak terkecuali keluarga Bielski di Belarusia yang diduduki tentara Jerman. Ribuan orang telah mati, tapi tentara Nazi masih bernafsu untuk memburu dan membunuh yang tersisa.<br />
<span id="more-92"></span><br />
Tuvia Bielski (Daniel Craig) mendapati orangtuanya tewas dibunuh tentara Nazi dan Belarusia yang menjadi antek Nazi. Bersama Zus Bielski (Liev Schreiber) dan Asael Bielski (Jamie Bell), Tuvia melarikan diri ke hutan. Di sana mereka bertemu dengan sekelompok orang Yahudi yang kabur dari ghetto. Karena iba, Tuvia menolong dan mengajak mereka bergabung bersamanya.</p>
<p>Setelah mendapatkan tempat yang cocok di tengah hutan, mereka membuat kamp. Untuk makan sehari-hari, mereka meminta atau jika terpaksa merampok yang memiliki persediaan bahan makanan. Tidak hanya makanan, mereka juga mengumpulkan senjata. Senjata-senjata itu akan digunakan untuk melawan.</p>
<p>Dengan pistol yang didapat Tuvia dari teman ayahnya, ia membunuh seorang kepala polisi dan tiga anak buahnya di hadapan istri kepala polisi itu. Tindakan ini dilakukan Tuvia sebagai balas dendam atas kematian orangtuanya. Namun ia sadar hal itu tidak mengembalikan nyawa mereka, malah melukai orang lain yang kehilangan orang-orang kesayangan mereka.</p>
<p>Dengan melakukan kekerasan, ia merasa dirinya sama dengan tentara Jerman yang biadab itu. Sayangnya, hal ini tidak diungkapkan dengan jelas saat ia berdebat dengan Zus. Menjadi agak ganjil seorang yang baru saja menghabisi nyawa pembunuh orangtuanya mengambil sikap yang bertentangan dengan yang dilakukannya itu.</p>
<p>“Meskipun kita diburu seperti binatang, janganlah kita bertindak seperti binatang,” tegas Tuvia. Karena prinsip itu, ia tidak mau menjadi petarung dan bergabung sebagai partisan Rusia (gerilyawan Rusia melawan Nazi) seperti kakaknya, Zus. Zus tidak ingin diam saja dan bersembunyi di hutan. Ia malah ingin menghabisi tentara Jerman supaya bisa kembali hidup bebas.</p>
<p>Makin lama makin banyak pelarian Yahudi yang bergabung bersama Tuvia. Dengan begitu, makin banyak makanan yang diperlukan padahal semakin sulit untuk mendapatkannya. Bahkan gara-gara ulah pria tua yang dimintai susu oleh kelompok Tuvia, tentara Belarusia menyerang kamp. Beruntung Tuvia bisa dengan mudah mengusir mereka keluar dari hutan.</p>
<p>Sebagai pemimpin, Tuvia memberlakukan peraturan larangan hamil. Ia merasa tidak bisa menanggung hidup seorang bayi selama pelarian. Namun sensitivitas peri kemanusiaannya kembali digugah oleh kelahiran bayi seorang perempuan yang diperkosa tentara Jerman. Walaupun hidup semakin berat, ia tetap menjaga hak untuk hidup bagi bayi itu.</p>
<p>Bukan hanya itu, kehidupan di kamp juga menorehkan banyak kisah. Saat musim dingin tiba dan mereka kekurangan makanan, beberapa orang merasa berhak mendapatkan makanan lebih karena menjadi petarung. Bahkan mereka menolak kepemimpinan Tuvia yang saat itu jatuh sakit. Beruntung Zus membawakan obat-obatan bagi adiknya dan beberapa anggota kelompok yang terserang typhus.</p>
<p>Selain itu, film ini menyelipkan romantisme yang dialami Zus, Tuvia, dan Asael. Asael menikahi seorang perempuan muda yang sungguh-sungguh mencintainya. Sementara penghuni kamp berpesta merayakan pernikahan Asael, Zus bersama kelompok Rusia menyerang tentara Jerman dan melucuti senjata mereka.</p>
<p>Sadar ia hanya diperalat oleh tentara Rusia yang ternyata mau membiarkan kamp Yahudi sebagai korban keganasan Nazi, Zus berencana kabur dan membantu kamp yang dipimpin adiknya. Kamp hancur dibombardir pesawat tentara Jerman. Penduduk kamp kabur menyeberangi rawa-rawa hingga menemukan daratan lagi. Peristiwa ini mengingatkan akan kisah Musa yang membawa orang-orang Israel kabur dari Mesir dan membelah lautan supaya bisa dilewati.</p>
<p>Sesampainya di daratan, mereka disambut serangan tentara Jerman. Namun Zus dan kawan-kawan tiba-tiba muncul membantu mereka saat mereka benar-benar terpojok akibat serangan itu. Perjalanan dilanjutkan dan mereka kembali membangun kamp di hutan. Mereka mampu bertahan setelah dua tahun kemudian bertepatan dengan kekalahan Nazi dan mengakhiri pelarian mereka. Saat itu penduduk kamp semakin bertambah hingga seribuan orang.</p>
<p>Zus dan Tuvia membangun bisnis di New York hingga tiga puluh tahun kemudian. Mereka tinggal di sana setelah menikah dengan teman satu kamp di hutan, sepeninggal istri mereka yang dibunuh tentara Jerman. Terhadap perjuangan keluarga Bielski menyelamatkan ratusan orang ini, pemerintah tidak pernah memberikan penghargaan yang layak bagi mereka.</p>
<p>Sebagai sebuah film kisah nyata yang berisi nilai-nilai keluarga, kehormatan, balas dendam, dan pengorbanan, Defiance layak ditonton. Film berdurasi 120 menit ini membuatku tak sempat berkedip karena tak ingin ketinggalan satu adegan atau satu dialog pun. Oya, gara-gara film ini, aku jadi suka sama Daniel Craig.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pruwanto.com/2009/01/defiance-kekuatan-untuk-bertahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gandhi, Kemenangannya Mengubah Dunia</title>
		<link>http://pruwanto.com/2006/06/gandhi-kemenangannya-mengubah-dunia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=gandhi-kemenangannya-mengubah-dunia</link>
		<comments>http://pruwanto.com/2006/06/gandhi-kemenangannya-mengubah-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jun 2006 10:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pruwanto.com/word/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Saat putus asa, aku selalu ingat bahwa jalan kebenaran dan cinta selalu menang. Di sana mungkin terdapat tirani dan pembunuhan, dan untuk beberapa waktu, mereka mungkin kelihatan terlalu kuat untuk dikalahkan; tapi pada akhirnya, mereka selalu gagal. Pikirkan ini, selalu. Kamu pernah dengar nama Mahatma Gandhi? Kata-kata berkekuatan dashyat di atas diucapkannya ketika memperjuangkan persamaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>Saat putus asa, aku selalu ingat bahwa jalan kebenaran dan cinta selalu menang. Di sana mungkin terdapat tirani dan pembunuhan, dan untuk beberapa waktu, mereka mungkin kelihatan terlalu kuat untuk dikalahkan; tapi pada akhirnya, mereka selalu gagal. Pikirkan ini, selalu.</strong></p></blockquote>
<div style="float: left; margin-right: 5px; margin-bottom: 5px;"><img src="http://static.flickr.com/63/173168875_670d5a5e2c_m.jpg" alt="gandhi" width="177" height="240" /></div>
<p>Kamu pernah dengar nama Mahatma Gandhi? Kata-kata berkekuatan dashyat di atas diucapkannya ketika memperjuangkan persamaan hak-hak imigran di Afrika Selatan. Dia berjuang <em>nggak</em> sendirian, tapi bersama orang Hindu dan Islam di sana yang jadi korban. Tapi jangan bayangkan mereka berjuang pakai bambu runcing, tombak, atau pistol. Mereka memakai jalur hukum, kebetulan Gandhi pengacara, dan sama sekali nggak melawan pas ditendang, dipukul, dan dikata-katain aparat. Memang kalau perjuangan dilakukan bersama-sama, apalagi pakai cara-cara damai, persis kayak yang dia bilang, perjuangan itu pun sukses.</p>
<p><span id="more-37"></span><br />
Pulang dari sana, Gandhi balik ke kampung halamannya, India. Di sana dia dielu-elukan bak raja, tapi dia tetep rendah hati dan makin sederhana. Pakaiannya bukan lagi jas, tapi cuma balutan kain putih. Dia juga meninggalkan profesinya sebagai pengacara, dan memilih jadi pemimpin spiritual rakyat India. Cita-cita perjuangannya untuk membebaskan India dari penjajahan Inggris. Cara berjuangnya masih seperti yang dulu, nggak membalas kekerasan dengan kekerasan, tapi memakai kebenaran dan cinta. Alhasil, India sukses jadi negara merdeka.</p>
<p>Tapi sayang, orang Hindu dan Islam malah enggan bersatu. India pun terpecah jadi India dan Pakistan, dan Pakistan Timur (sekarang Bangladesh). Nyawanya pun melayang di tangan seorang pendukung fanatik Hindu yang menganggap Gandhi gagal menyatukan rakyat India. Meski begitu, Gandhi sudah membuktikan bahwa kemenangannya melawan kekerasan sedikit banyak mengubah dunia ini.</p>
<p>Dua dekade setelah kematiannya, Martin Luther King memakai metode anti kekerasan ala Gandhi di Amerika Serikat. Keduanya kemudian jadi tokoh pejuang anti kekerasan yang terkenal di seantero jagat. Kini banyak orang dan kelompok yang mendambakan perdamaian dan keadilan terinspirasi perjuangan Gandhi dan King, melawan ketidakadilan dan kekerasan dengan kebenaran dan cinta.</p>
<p>Masih belum kenal Gandhi juga?  Buruan tonton kisah Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1984) di film bertajuk â€œGandhiâ€. Film yang dibuat tahun 1982 ini disutradarai Richard  Attenborough dengan nyaris sempurna. Buktinya, film yang berdurasi 188 menit ini dapet 8 piala Oscar. Siapa tahu habis nonton film ini, muncul Gandhi-Gandhi yang lain. (ari)<br />
[dimuat di warnabangsa edisi III] </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pruwanto.com/2006/06/gandhi-kemenangannya-mengubah-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kegigihan Melawan Kekerasan</title>
		<link>http://pruwanto.com/2005/10/kegigihan-melawan-kekerasan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kegigihan-melawan-kekerasan</link>
		<comments>http://pruwanto.com/2005/10/kegigihan-melawan-kekerasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2005 07:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pruwanto.com/word/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Film ini penuh dengan kekejaman kalau bukan kekerasan. Tapi dibalik itu muncul pula kegigihan seorang manusia untuk bertahan. Nonton DVD hasil sewa dari Ultradisc gratisan bersama Istri sambil tiduran&#8230; (sampai hampir tidur hehe) Kekejaman demi kekejaman ada di sepanjang film, ketika bom-bom mulai berjatuhan di Polandia, ketika Yahudi harus mengenakan tanda khusus di lengan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style= "float: left; margin-right:5px; margin-bottom: 5px">
<img src="http://pruwanto.com/word/images/thepianist.jpg" alt="The Pianist" /> </div>
<p>Film ini penuh dengan kekejaman kalau bukan kekerasan. Tapi dibalik itu muncul pula kegigihan seorang manusia untuk bertahan. Nonton DVD hasil sewa dari Ultradisc gratisan <img src='http://pruwanto.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  bersama Istri sambil tiduran&#8230; (sampai hampir tidur hehe)<br />
Kekejaman demi kekejaman ada di sepanjang film, ketika bom-bom mulai berjatuhan di Polandia, ketika Yahudi harus mengenakan tanda khusus di lengan untuk lebih mudah membedakan dengan yang bukan yahudi, ketika diusir paksa, disediakan tempat khusus (getho), disuruh kerja paksa, disiksa, ditembak tanpa kata, dll dll<br />
Semua kekerasan itu pasti membuat mual. Roman Polanski sang sutradara, ternyata mengalami sendiri kejadian itu pada masa kanak2nya di Krakaw dan Warsawa, Polandia. Adrien Body berperan sangat baik, sebagai pemeran utama -Wladyslaw Szpilman-, seorang pianis yang mengalami kekejaman (juga kebaikan) Nazi.<br />
Film ini dibalut dengan keindahan alunan piano di awal dan di akhir. Sangat memnyentuh dan dengan baik menghalau kesan dominasi kekerasan di film ini.</p>
<p><span id="more-29"></span><br />
Beberapa nilai yang aku coba refleksikan:</p>
<p><strong>Kegigihan untuk berjuang melawan ketidakadilan, kekejaman, dan kekerasan.</strong> Mungkin kita melihat hampir tak ada peluang untuk terbebas, mungkin semua orang di sekitar kita sudah kalah, tapi itu tidak berarti kita juga sudah kalah.<br />
Ketika tentara yahudi yang mencoba melawan, meski dengan senjata seadanya dan sangat jauh dibanding Jerman yang lengkap, perlawanan itu tetap punya nilai meski kalah, tak seorangpun menyangka yahudi bisa melawan, dan itu menginspirasi Polandia untuk juga melawan Jerman.</p>
<p><strong>Kegigihan bukan kekuatan fisik dan kepandaian otak.</strong> Szpilman, bukan seorang yang kekar, hanya orang biasa, nggak pinter ngomong, tapi kegigihannya yang menyelamatkan dari kekejaman Nazi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pruwanto.com/2005/10/kegigihan-melawan-kekerasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawaran Aksi Mencegah Eksploitasi Korporasi</title>
		<link>http://pruwanto.com/2005/09/tawaran-aksi-mencegah-eksploitasi-korporasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tawaran-aksi-mencegah-eksploitasi-korporasi</link>
		<comments>http://pruwanto.com/2005/09/tawaran-aksi-mencegah-eksploitasi-korporasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2005 12:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pruwanto.com/word/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Permulaan abad ke-20 banyak negara yang menganut demokrasi, demokrasi merambah ruang publik dan ekonomi. Program sosial dan peraturan perundangan tentang ekonomi banyak yang memihak rakyatnya. Permulaan bagian tahun-tahun dari akhir abad itu, bagaimanapun, pemerintah mulai untuk mundur. Di bawah lobi perusahaan dan globalisasi ekonomi, mereka menganut kebijakan yang dipromosikan oleh neoliberalisme. Deregulasi membebaskan korporasi dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permulaan abad ke-20 banyak negara yang menganut demokrasi, demokrasi merambah ruang publik dan ekonomi. Program sosial dan peraturan perundangan tentang ekonomi banyak yang memihak rakyatnya. Permulaan bagian tahun-tahun dari akhir abad itu, bagaimanapun, pemerintah mulai untuk mundur. Di bawah lobi perusahaan dan  globalisasi ekonomi, mereka menganut kebijakan yang dipromosikan oleh neoliberalisme. Deregulasi membebaskan korporasi dari batasan undang-undang, dan privatisasi mulai berkuasa untuk mengurus area publik yang sebelumnya dilindungi dari eksploitasi korporasi. Pada akhir abad ke-20, korporasi telah menjadi institusi dunia yang dominan.</p>
<p>Korporasi sebagai institusi paling dominan ternyata gagal mengatasi masalah besar dunia: kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, perang, dan kesehatan, malah makin mmeperburuk, antara lain ditandai dengan banyak muncul aktivis lingkungan hidup dan pengunjukrasa antiglobalisasi.<br />
Kapitalisme yang telah merambah dunia, menumbangkan komunisme dilain pihak, menyingkirkan monarki, ternyata meninggalkan banyak orang terutama di negara miskin. Bahkan banyak orang pula di Negara maju. Memang, korporasi ada untuk semakin meningkatkan nilai saham pemiliknya, dengan cara apapun.<br />
<span id="more-27"></span><br />
Dari pihak pendukung kapitalisme, muncul usulan bahwa korporasi dapat menggantikan peran pemerintah. Pasar dan bukan rakyat, korporasi dan bukan pemerintah, serta pemegang saham dan bukan dewan perwakilan rakyat yang seharusnya menjadi acuan. Karena toh perusahaan juga mempunyai komitmen sosial. Demokrasi yang ada adalah demokrasi pasar atau demokrasi pemegang saham.</p>
<p>Tetapi sebenarnyalah mereka gagal menjadi institusi yang bisa dipercaya untuk memihak kepentingan publik karena itu berlawanan dengan sifat dasar korporasi yang ingin memaksimalkan keuntungan dan nilai saham pemiliknya. Eksekutif perusahaan tidak mempunyai tanggungjawab apapun terhadap publik kecuali kepada pemilik modal. Maka, korporasi tentu tidak dapat dipercaya membuat peraturan yang memihak rakyat, membuat standar, mengusahakan hukum dan keadilan, memikirkan kesejahteraan umum, melindungi lingkungan hidup, dan menjaga kebudayaan. Itu semuanya hanya bisa dilakukan oleh pemerintah. Setidaknya dalam pemerintahan, demokrasi yang berlaku adalah adanya kesamaan dalam hak politik, dimana satu orang mempunyai satu hak pilih. Tidak seperti halnya dalam korporasi dimana satu saham berarti satu hak pilih, semakin besar sahamnya, berarti semakin besar kekuasaannya.</p>
<p>Meski pemerintahan pun tidak ada yang sempurna, korup, bahkan akhirnya berselingkuh dengan korporasi dalam tiap undang-undang yang dibuatnya, kebencian publik pada kekuasaan pemerintah bisa berasal dari korporasi. Yang mempropaganda untuk lebih percaya kepada korporasi dengan demokrasi pasarnya daripada pemerintah. Apakah kita percaya pada pemerintahan begitu saja? Setidaknya kita percaya bahwa pemerintahlah seharusnya yang lebih berkuasa, dimana korporasi tunduk oleh peraturan yang dibuatnya, dan selalu akan dibawah kendalinya.</p>
<p>Meski korporasi pada awal sejarahnyapun diciptakan oleh pemerintah untuk kesejahteraan publik [meski itu bisa berarti hanya kesejahteraan rakyat dari pemerintahan itu] (bdk. VOC yang menjalankan monopoli perdagangan di negara jajahan Belanda khususnya Indonesia) sampai pada perkembangannya seperti sekarang, ada yang tetap sama dan harus tetap sama: korporasi adalah produk kebijakan publik ciptaan negara.</p>
<p>Apakah selanjutnya kita percaya saja dengan pemerintahan? Sebaliknya tidak mempercayai korporasi samasekali? Apa yang bisa kita lakukan dalam jangka waktu sekarang, minggu depan, atau tahun depan? Tantangannya ada disini, yaitu mencari jalan untuk mengawasi korporasi sebagai subjek terbatas dari suatu demokrasi dan melindungi rakyat dari kecenderungannya untuk menguasai segalanya atas nama keuntungan. Sambil, di jangka panjang kita berusaha untuk mengembangkan suatu sitem ekonomi yang lebih memanusiakan dan memihak rakyat. Di pihak lain juga meningkatkan keefektifan, tanggungjawab, dan, legitimasi pemerintah. Inilah strategi saat ini yang paling realistik.</p>
<p>Secara umum beberapa solusi yang bisa dilakukan adalah:<br />
<strong>Perbaikan sistem perundang-undangan</strong><br />
Undang-undang secara prinsip harus membawa korporasi ke dalam kontrol demokrasi dan menghormati kepentingan rakyat, dan lingkungan hidup.<br />
Peraturan pemerintah dibuat agar eksekutif perusahaan juga bertanggungjawab terhadap kejahatan yang dilakukan oleh korporasi yang merugikan kepentingan umum.<br />
Peraturan dirancang agar membatasi korporasi dalam usahanya yang dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan masyarakat, dan keamanan rakyat.<br />
Membatasi usaha promosi iklan di tempat, waktu, media dan sasaran tertentu.<br />
Peningkatan dan perlindungan peran serikat pekerja terutama dalam usahanya untuk melindungi lingkungan hidup dan hak asasi manusia.<br />
<strong>Memperkuat demokrasi politik</strong><br />
Pemilihan umum/daerah seharusnya dibiayai secara publik/negara. Korporasi mempunyai kepentingan besar apabila dilibatkan dalam pembiayaan pemilihan, ia bisa memaksakan produknya dan mempengaruhi kebijakan hasil institusi/orang yang terpilih.<br />
<strong>Menciptakan ruangpublik yang kuat</strong><br />
Melindungi beberapa ruangpublik &#8211;yang patut dipertimbangkan seperti lembaga kebudayaan, taman nasional, suaka margasatwa, air, gen, keanekaragaman hayati dll&#8211; dari ancaman eksploitasi korporasi.<br />
Menghadapi tantangan Neoliberalisme Internasional<br />
Negara-negara perlu bekerjasama menggeser ideologi dan praktek institusi internasional seperti WTO, IMF, dan Bank Dunia dari fundamentalisme pasar dan sokongannya untuk melakukan privatisasi.</p>
<p>Yang penting untuk diingat, korporasi adalah ciptaan kita! Dengan contoh perjuangan warga Cochabamba, Bolivia, mereka bersatu, mengatur diri, dan melawan, ketika Bolivia dibawah tekanan Bank Dunia untuk melakukan privatisasi air. Keberhasilan yang mereka capai bukan hanya digagalkannya privatisasi air, tetapi juga munculnya semangat luarbiasa untuk keadilan, demokrasi, dan mengubah kondisi rakyat!</p>
<p><strong>Semua perjuangan itu sebenarnya adalah tentang kita, bagaimana kita hidup dalam keselarasan dengan orang lain yang merupakan teman kita bahkan keluarga kita, bagaimana kita bekerjasama dengan orang yang bekerja dalam suatu korporasi. Untuk itu kita tetap perlu optimis, karena semuanya adalah tentang kita.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pruwanto.com/2005/09/tawaran-aksi-mencegah-eksploitasi-korporasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korporasi Tanpa Batas</title>
		<link>http://pruwanto.com/2005/09/korporasi-tanpa-batas/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=korporasi-tanpa-batas</link>
		<comments>http://pruwanto.com/2005/09/korporasi-tanpa-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2005 07:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pruwanto.com/word/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan sinopsis dari bab 5 dari buku &#8220;The Corporation&#8221; karangan Joel Balkan. Buku The Corporation sangat menarik, menelanjangi perilaku korporasi. Memaparkan banyak wawancara dengan eksekutif2 perusahaan multinasional macam BP, Pfizer, dll, juga pakar2 yang berhubungan dengan topik yang dibahas. Layak disimak sampai tuntas bukunya, membuka kedok korporasi bahwa apapun yang mereka lakukan sebenarnya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="float: right; margin-left: 5px; margin-bottom: 5px;"><img src="http://pruwanto.com/word/images/thecorporation.jpg" alt="The Corporation" /></div>
<p>Ini merupakan sinopsis dari bab 5 dari buku &#8220;<strong>The Corporation</strong>&#8221; karangan <strong>Joel Balkan</strong>. Buku The Corporation sangat menarik, menelanjangi perilaku korporasi. Memaparkan banyak wawancara dengan eksekutif2 perusahaan multinasional macam BP, Pfizer, dll, juga pakar2 yang berhubungan dengan topik yang dibahas.<br />
Layak disimak sampai tuntas bukunya, membuka kedok korporasi bahwa apapun yang mereka lakukan sebenarnya adalah untuk kepentingannya sendiri dan pemilik saham, bahkan dalam program &#8220;sosial&#8221; atau  &#8220;kampanye lingkungan hidup&#8221;.</p>
<p>If the corporation were a person, would that person be a psychopath?<br />
<span id="more-26"></span><br />
Seperti halnya Psikopat, Perusahaan juga tidak mempunyai tanggungjawab, ia menempatkan orang lain pada suatu resiko untuk memuaskan tujuannya yaitu memaksimalkan laba, karenanya membahayakan pekerja dan pelanggan, dan merusak lingkungan. Korporasi memanipulasi segalanya. Tujuan besarnya adalah menjadi yang terbaik, menjadi nomer satu. Ia tidak mempunyai empati, berusaha menolak bertanggungjawab atas aksinya. Relasinya dengan yang lain hanyalah ilusi, melalui public-relation yang mempermak wajahnya, melalui orang2 marketing yang selalu memberi citra positif dirinya. Nah, jika korporasi ini bisa dimetaforkan dengan manusia, maka ia adalah manusia sakit jiwa, bukan?</p>
<p>Pesan utama buku ini adalah: melalui sifat psikopatnya, &#8220;firms make good people do bad things&#8221;!<br />
Mark Barry, Seorang &#8220;Competitive Intelligence Profesional&#8221; menceritakan bagiamana ia mengorek perusahaan saingan dengan cara apapun semisal dengan menjadi seolah head-hunter yang menawari eksekutif perusahaan saingan dengan pekerjaan menarik boongan dan macam-macam kegiatan yang ia sendiri mengakui tidak akan melakukannya dalam kehidupan pribadinya. Ia menjadi bersifat mendua juga -&gt; gejala psykopathic?</p>
<p>====</p>
<p><strong>Korporasi Tanpa Batas</strong><br />
<em>Sebuah Sinopsis bab 5 dari buku The Corporation</em></p>
<p>Korporasi juga berarti segala hal tentang memperoleh kekayaan, dan sarana yang sangat efektif untuk mencapainya. Tidak ada batasan, apakah moral, etika, atau perundangan, korporasi dapat meng-eksploitasi (merekayasa) batas untuk memperoleh kekayaan untuk diri mereka dan pemiliknya.</p>
<p>Pada pertengahan hingga akhir abad ini, korporasi berusaha mencari dan akhirnya memperoleh hak-hak untuk eksploitasi kebanyakan dari sumber alam dunia dan hampir semua area usaha manusia.<br />
Sekarang kenyataannya semua kegiatan ekonomi dilakukan dalam bentuk korporasi. Bagaimanapun, sisa penghalang besar korporasi mengatur segalanya adalah adanya ruang publik.</p>
<p>Tetapi melalui suatu proses yang kita kenal sebagai privatisasi, pemerintah sudah mulai menyerahkan institusi yang secara alami adalah ruang publik dalam kendali korporasi. Tidak ada ruang publik yang kebal terhadap penyusupan korporasi. Air dan pusat pembangkit listrik, polisi, dinas pemadam kebakaran dan gawat darurat, berbagai pusat pelayanan publik, jasa kesejahteraan, jaminan sosial, sekolah dan universitas, pusat riset, penjara, pelabuhan udara, pelayanan kesehatan, gen, penyiaran, spektrum elektromagnetik, taman publik, dan jalan tol, semua sedang mengalami atau paling tidak dipertimbangkan-untuk-proses privatisasi sebagian maupun keseluruhannya.</p>
<p>&#8220;Pasar pendidikan&#8221; menjadi masalah besar karena  masih sedikitnya kehadiran perusahaan pengelola, maka bidang ini akan dieksploitasi dengan cepat dalam tahun-tahun selanjutnya, disejajarkan dengan pelayanan kesehatan yang telah tigapuluh tahun yang lalu dikelola secara swasta. Meski, penganjur sebenarnya tidak mempunyai bukti kuat untuk mendukung klaim mereka bahwa sekolah swasta berkinerja lebih baik, dalam kaitan dengan hasil belajar muridnya, dibanding sekolah negeri. Saham Lembaga Pendidikan Edison, yang sempat mencapai $ 21,68 di pasar bursa Nasdaq, terjun menjadi kurang dari satu dollar.</p>
<p>Institusi publik secara alami adalah cacat, begitulah menurut pendukung privatisasi, sebab mereka bersandar pada sesuatu yang tak realistis &#8211;tidak sepenuhnya egois dan materialisâ€”yang merupakan konsep alami manusia.<br />
Meskipun pelayanan swasta dalam beberapa ukuran dan dalam beberapa hal terbukti lebih efektif dibanding pelayanan umum, privatisasi mempunyai cacat sebagai solusi jangka panjang untuk permasalahan dalam masyarakat. Secara filosofi, privatisasi menyimpang dan belum paripurna dalam konsep manusiawi. Egoisme dan keinginan akan material adalah hanya bagian alami dari diri kita, tidak secara mutlak. Mendasarkan suatu sistem sosial dan ekonomi pada konsep ini mempunyai bahaya yang mendasar. Pada tataran praktis, privatisasi mempunyai cacat untuk dipercayai melayani masyarakat dengan korporasinya yang mencari-keuntungan-belaka. Berbeda dengan institusi publik, yang memang dimandatkan hanya untuk melayani masyarakat, korporasi secara resmi diharuskan menempatkan kepentingan mereka sendiri di atas semua kepentingan orang lain. Korporasi boleh bertindak untuk melayani masyarakat ketika hal itu juga berdampak mendapatkan keuntungan baginya. Tetapi mereka juga akan dengan cepat mengorbankan pelayanan masyarakat &#8211;dan hal ini adalah sah untuk dilakukannya&#8211; ketika yang lebih diperlukan adalah mendahulukan kepentingannya sendiri.</p>
<p>Korporasi juga menyasar anak-anak, anak kecil dianggap sebagai &#8220;konsumen masa depan &#8230; menyuguhkan pasar yang sangat besar.&#8221; Pemasang iklan menembus media yang dibatasi penjagaan orang tua dan melibatkan kuasa anak-anak untuk melakukan bujukan yang pantas dipertimbangkan orangtua mereka. Itu terjadi karena pemasar sadar anak lebih mudah untuk dimanipulasi dibanding orang dewasa. Menyodorkan makanan berlemak tinggi (junkfood), cepatsaji, mengandung banyak gula, secara langsung ke anak-anak adalah salah satu taktik kontroversial dari pemasar anak-anak.</p>
<p>Mereka melakukan riset yang didukung oleh psikolog anak untuk memuluskan usahanya. Mereka membuat &#8220;rengekan yang efektif&#8221; agar anak mempunyai alasan yang tepat untuk disodorkan kepada orangtua mereka sehingga membeli barang tertentu, bukan hanya barang yang dekat dengan mereka atau makanan yang mereka makan (meski sebenarnya sebagian besar sangat tidak berguna buat mereka) tetapi juga barang2 teknologi tinggi yang dipakai oleh orangtua mereka seperti mobil, komputer, atau televisi.</p>
<p>Ruang-ruang publik juga menjadi sasaran korporasi, lapangan-lapangan tempat bermain bola menjadi apartemen kelas atas dan pertokoan atau mall, taman-taman kota menjadi perkantoran dilengkapi dengan sarana rekreasi berbagai restoran makanan cepatsaji, jalan-jalan yang merupakan tempat orang untuk sekedar berpindah lokasi dijejali poster dan banner-banner tempat korporasi menawarkan produk-produknya.</p>
<p>Demikianlah bagaimana korporasi memiliki kecenderungan mengeksploitasi segala hal di dunia ini, tak terkecuali ruang-ruang publik!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pruwanto.com/2005/09/korporasi-tanpa-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menerobos Rintangan, Mewujudkan mimpi</title>
		<link>http://pruwanto.com/2005/09/menerobos-rintangan-mewujudkan-mimpi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=menerobos-rintangan-mewujudkan-mimpi</link>
		<comments>http://pruwanto.com/2005/09/menerobos-rintangan-mewujudkan-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2005 10:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pruwanto.com/word/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Cast Leonardo DiCaprio &#8230;. Howard Hughes Cate Blanchett &#8230;. Katharine Hepburn Kate Beckinsale &#8230;. Ava Gardner &#8220;The Aviator,&#8221; Martin Scorsese&#8217;s grandly glamorous biopic about the tortured life of legendary millionaire maverick Howard Hughes who triumphed over personal demons. A-III (PG-13) http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0500068.htm Howard Hughes, diceritakan menderita berbagai gangguan psikologis, suka mengulang-ulang kata -bahkan digambarkan sebagai akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style= "float: left; margin-right:5px; margin-bottom: 5px">
<img src="http://pruwanto.com/word/images/theaviator.jpg" alt="The Aviator" />
</div>
<p>Cast<br />
Leonardo DiCaprio	&#8230;. 	Howard Hughes<br />
Cate Blanchett		&#8230;. 	Katharine Hepburn<br />
Kate Beckinsale		&#8230;. 	Ava Gardner</p>
<p>&#8220;The Aviator,&#8221; Martin Scorsese&#8217;s grandly glamorous biopic about the tortured life of legendary millionaire maverick Howard Hughes who triumphed over personal demons. A-III (PG-13) http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0500068.htm</p>
<p>Howard Hughes, diceritakan menderita berbagai gangguan psikologis, suka mengulang-ulang kata -bahkan digambarkan sebagai akhir cerita- &#8220;The way of the future. The way of the future. The way of the future.&#8221; Ia juga kuman-fobia (atau apalah namanya <img src='http://pruwanto.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , dan agak tuli.<br />
Tapi keinginan keras dan kepandaiannya membuat ia mengabaikan segala kelemahan untuk mewujudkan mimpinya. Tema ini yang membuat film &#8220;The Aviator&#8221; dipilih sebagai &#8220;The top 10 films of 2004&#8243; oleh U.S. Conference of Catholic Bishops. Kelemahan tak selamanya harus merintangi mewujudkan apa yang ingin kita capai.<br />
<span id="more-25"></span><br />
Nonton film yang berdurasi cukup panjang ini (168 menit) tidak terasa membosankan meski kisah drama yang ditampilkan tidak terlalu memuncak dengan konflik2 berat. [biasanya ketiduran kalo nonton film sama istri, apalagi kalo nonton film yang membosankan, habis nontonnya di tempat tidur, sambil tiduran ... ]
<p>Dikisahkan di awal saat dirinya sebagai pembuat film &#8220;Hells Angels&#8221; sebuah film kolosal yang memakan biaya sangat banyak dan memakan waktu bertahun-tahun hanya karena ia ingin adanya awan sebagai latar belakang pertempuran di udara. Ia juga sangat tertarik dengan penerbangan, ia membangun TWA, bersaing dengan Pan Am yang kala itu memonopoli penerbangan di Amrik dan mempunyai dukungan Congress.</p>
<p>Howard Hughes: [talking of Juan Trippe] He owns Pan-Am. He owns Congress. He owns the Civil Aeronautics Board. But he does not own the sky.</p>
<p>Ia juga sempat jatuh dari pesawat yang dikemudikannya sendiri. Tapi keinginannya untuk meraih mimpinya tak sirna. Terakhir dikisahkan impiannya membuat Hercules, pesawat terbang angkut terbesar saat itu, dan impiannya terwujud!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pruwanto.com/2005/09/menerobos-rintangan-mewujudkan-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

