Aug 22 2005

Sade, Kampung Tradisional Sasak (lombok5)

Published by budi at 6:22 pm under jalan-jalan

Minggu, 14 Agustus 2005. Perjalanan berlanjut, kami mengunjungi Sade, Kampung tradisional Sasak, sekitar 40 menit dari Tanjung Aan. Menurut pemandu, ada 2 kampung tradisional Sasak yaitu Sade dan Rambitan. Masuk ke perkampungan kami segera disambut oleh pemandu yang juga orang asli perkampungan tersebut dan kotak donasi, di pelataran depan dijelaskan tentang Lumbung padi yang diletakkan di depan, tertutup dan hanya satu pintu untuk keluar masuk. Lumbung itu terletak di atas ditopang kayu beratap ilalang kering, sama dengan semua bangunan di kampung tsb. “Lumbung ini tempat menyimpan padi, yang ditanam oleh penduduk saat musim hujan, sekali setahun. Di sebelahnya adalah rumah ketua kampung, sedang di sebelahnya lagi adalah tempat untuk berkumpul warga.”, demikian papar pemandu tsb. Lumbung padi khas Sasak menjadi lambang daerah Lombok karena bentuknya yang unik.

Suku Sasak asli kebanyakan menganut Islam “Waktu Telu” semacam gabungan dengan kepercayaan animisme. Hal ini kemungkinan merupakan “kompromi” para pembawa Islam awal dengan budaya asli. Tetapi menurut pemandu dari tour, penganut Islam “yang sempurna” mulai banyak dan menjadi mayoritas. Ketrampilan membuat tenun khas Sasak sangat diandalkan karena dari bisa dilakukan di segala musim dan dengan pariwisata yang mulai bergerak naik lagi, ekonomi mereka terbantu. Memang masalah ekonomi banyak timbul terutama sebelum model pertanian gogo rancah dan palawija dikenal. Sistem perkawinan culik, yaitu menculik anak gadis oleh pria kepada calon istri juga timbul ditengarai karena keadaan ekonomi yang sulit, yang membuat orang lebih baik menculik seorang gadis karena apabila dilakukan dengan “baik-baik” akan dikenai “hukum adat” yang mahal. Bahkan dalam kampung sasak mereka mengawinkan sesama sepupu agar tidak dikenai uang mahar atas perkawinan yang mahal kalau dilakukan dengan orang “luar”.

Sistem pembagian ruangan dalam rumahpun juga terpengaruh dengan adat “kawin culik” ini. Ruangan dibagi tiga yaitu kamar belakang yang biasanya dipakai untuk penyimpanan dan tidur, dapur yang juga dipakai tidur anak gadis dan ruang depan yang dipakai menerima tamu atau berkumpul keluarga. Orangtua biasanya tidur di ruang depan atau teras. Pembagian ruangan ini seakan menyiratkan “langkahi dulu orangtuanya” sebelum bisa menculik anak gadisnya, karena memang hanya satu pintu keluar masuk di bagian depan. Rumah mereka memang tanpa jendela. Sedangkan pintunya dibuat rendah yang mengingatkan orang untuk rendah hati, membungkuk ketika masuk/keluar. Saat kami berkunjung, ada yang sedang membangun rumah yang semuanya hampir sama, yaitu dibuat dari bambu dan kayu untuk kerangka dan penutup dinding dan ilalang sebagai atap. Daun ilalang memang banyak terdapat di pekarangan sekitar dan cukup awet. Bahkan nyaman karena menurut cerita mereka kalau di dalam tidak akan terdengar suara hujan, tidak seperti kalau beratap genting apalagi seng/asbes. Keunikan lain adalah penggunaan tahi kerbau untuk mengepel lantai sehingga lantainya tidak berdebu. Waktu masuk sih tak terasa berbau tahi padahal mereka juga menggunakannya di lantai itu. Yang jelas tampak gelap tetapi anehnya juga tidak terlalu pengap.

Ada salahsatu cara aneh yang digunakan mereka untuk memusnahkan semut. Bukan dengan “kapur ajaib”, bukan dengan obat kimia tentu, tetapi dengan menggantung rahang kerbau yang masih ada sedikt dagingnya untuk mengundang semut. Saat itu terlihat beberapa semut merah berkerumun di rahang kerbau yang digantung itu. Setelah banyak terkumpul semut, maka rahang itu dibakar sampai semut2 itu mati dan digantung lagi jadi bisa digunakan beberapa kali.
Di perkampungan itu tampak sudah ada listrik masuk. Saat kami tanyakan ke pemandu mereka sebenarnya tinggal di perkampungan itu bukan hanya karena ingin mempertahankan adat istiadat tetapi juga karena masalah ekonomi.

Yang patut dikagumi, budaya tolong menolong masih sangat kental, mereka dalam perkampungan itu hidup dalam satu keluarga besar, saling membantu. Ehm, bisakah ini diterapkan di Indonesia? menjadi satu keluarga besar, tanpa KKN, mementingkan diri sendiri.

Popularity: 10% [?]

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Budi Pruwanto's Facebook profile