Gili Trawangan, Malimbu, dan Pusuk Pass (lombok10)
Gili Trawangan
16 Agustus 2005
Saat kami melakukan perjalanan ke Gili Trawangan dari Senggigi, kami melewati Malimbu. Tempat ini merupakan bukit di sebelah pantai. Sejauh mata memandang bisa tampak pulau Gili Trawangan.

Sebenarnya untuk menuju ke Gili Trawangan bisa melalui pantai Senggigi, naik perahu. Kami naik perahu dari pelabuhan terdekat menuju Gili Trawangan. Sebelumnya kami “harus” naik cidomo dari terminal terdekat, katanya sih agar cidomo juga laku.
Dari pelabuhan itu tampak 3 Gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Kami akan menuju ke Gili Trawangan karena berencana keliling pulau dengan perahu yang bawahnya mempunyai gelas kaca. Waktu kami berangkat angin lumayan kencang dan ombak juga mulai meninggi. Sesampai di Gili Trawangan sekitar 40-45 menit ternyata angin bertambah besar sehingga menghalangi kami untuk snorkeling ataupun berkeliling dengan bottom glass boat. Akhirnya kami berkeliling pulau dengan Cidomo dengan Rp. 50.000.

Pemandangan keliling pulau tak kalah menarik. Beberapa wisman tampak berjalan beriringan dan ada juga yang naik sepeda sewaan. Hanya sedikit yang terlihat mencoba snorkeling mengingat kerasnya ombak. Hotel dan restoran yang berhadapan dengan pantai tampak ramai oleh wisatawan -maklum “peak season“-. Jalan yang kami lewati hanya searah karena jalan cukup kecil, tidak bisa memuat dua cidomo berpapasan. Sepanjang keliling pulau ternyata restoran dan villa sudah memadati tempat itu. Ada juga tanah yang sedang dijual. Menurut cerita pemandu, daerah ini awalnya merupakan pulau tempat pembuangan orang yang dicurigai aktifis PKI. kemudian ada juga nelayan dan pelaut Bugis sebagai penduduk pertama. Tapi kini -dia melanjutkan cerita- banyak orang luar yang mengatasnamakan penduduk setempat untuk membeli tanah, “itu punya orang arab” sambil menunjuk tempat yang sedang dibangun di puncak bukit. Jalan untuk berkeliling pulau di beberapa tempat masih berupa pasir pantai sehingga cidomo pun sukar lewat, harus dibantu dorong bahkan.
Di salahsatu pantai yang sepi tapi landai dan jernih kami mampir untuk berfoto. Langit biru sedikit berawan, di kejauhan tampak perahu-perahu, pasir pantai yang bersih, beberapa burung berkicau semua menambah keceriaan alam. Di bawah pohon rindang yang agak tersembunyi ternyata beberapa wisman asyik membaca buku sambil berjemur. Kami sempat menghabiskan waktu berlama-lama di pantai ini, setelah itu kami melanjutkan berkeliling. Kami juga lewat pembangkit listrik tenaga diesel yang ada di tengah pulau, yang menyediakan listrik bagi pulau Gili Trawangan. Memang fasilitas di pulau yang tergolong ini cukup lengkap, termasuk sinyal provider GSM yang bisa diterima disini karena terlihat setidaknya ada 3 BTS di pulau ini.
Setelah itu kami makan siang di Restoran Borobudur. Tidak ada yang terlalu spesial, tuna yang kami pesen alot. Di jalan masih nampak angin membawa pasir bercampur air garam. Kami yang rencananya menunggu angin reda sambil berkeliling pulau dan makan kemudian naik glass bottom boat tidak kesampaian. Perahu yang menunggu kami pun memperingatkan agak kami cepat pulang ke Lomobk karena ternyata angin semakin kencang sehingga ombak di laut pun semakin tinggi.
Pk 15.00 kami akhirnya pulang ke Lombok, perjalanan di perahu memang menjadi lebih “bergoyang” tapi untung kami tidak mabuk. Kami juga tidak bisa ke Gili Air atau Gili Meno yang letaknya bersebelahan karena air sedang surut dan perahu susah untuk mendarat di pantainya. Saat mendarat banyak anak kecil yang mengikuti kami, ternyata mereka membawa botol air minum kemasan dan menyiramkan ke kami kami ketika mau masuk ke mobil dengan maksud memberihkan kaki dari pasir dan meminta bayaran. Tetapi kami sendiri, karena memang tidak berminat dan tidak suka dengan caranya yang memaksa-maksa malah tidak kami beri uang.
Pusuk Pass
Kami melanjutkan perjalanan tapi tidak melalui jalan yang tadi untuk mencapai hotel kami di Senggigi. Kami melalui Pusuk Pass, seperti Puncak Pas kalau di Jawa, dan kebetulan Pusuk memang berarti Puncak. Di situ banyak kera yang lalu lalang maupun duduk “tingak-tinguk” (toleh kanan-kiri) sambil garuk2 kepala. Menurut pemandu, belum pernah ada berita kera tertabrak kendaraan, padfahal kendaraan yang lalu-lalang cukup ramai.

Kami turun dari mobil dan memberi mereka makanan kacang yang sudah kami beli tadi di jalan. Ada beberapa induk yang sedang menggendongnya. Ada pula kera besar yang dianggap “raja” oleh mereka sehingga sangat ditakuti. Si raja ini selalu menyambar makanan yang kami beri dan menghalau teman-temannya yang juga ingin berebut makanan. Yang pasti kera2 ini terlihat jinak dan berani mendekati kami yang menaruh kacang di tangan kami, tanpa perlu melempar. Di belakang kami ada juga mobil yang berisi beberapa orang juga turut berhenti dan memberi makan kepada kera2 yang jumlahnya ternyata semakin banyak.
Bung Budi,
perjalanan anda mengingatkan saya perjalanan ke Lombok beberapa tahun yang lalu. Tetebatu yang menawan, Gili Meno, Trawangan dan Air yang eksotic, pantai Kuta dengan pasir mericanya, gua seng batu, indah sekali.
Great journey
salam kenal
saya putra gili trawangan berterima kasih telah mengunjungi gili trawangan dengan segala kekurangan dan kelebihannya, sesungguhnya kami sendiri tidak terlalu banyak tahu keindahan apa sih yang ada di gili trawangan dan gili sebelahnya karena dari sejak lahir kami sudah berada di gili-gili tersebut, yang hanya kami lihat hamparan pasir putih, aneka warna ikan dan karangnya, bertahun-tahun kami hidup pulau kecil ini. sejak kedatangan para touris mancanegara sejak tahun 80 an baru kami kaget, apa sih orang mancung hidung datang kemari mau menjajah kembali seperti cerita kakek buyut kami di kala jaman penjajahan belanda dan jepang, dan gili trawangan di buka sejak tahun 1972 oleh pemerintah untuk di jadikan kebun kelapa, dan orang kami lah rang pertama yang membuka pulau itu menjadi kebun tahun 1973. dan orang tua kami berasal dari gili air, dan hanya tidak lebih dari 13 kk yang ke gili trawangan kala itu. tapi sejak tahun 1986 wisatawan berkunjung ke gili trawangan setiap bulan makin bertambah, membuat kami bingung mereka mesti tidur dan makan di mana dan makan apa? karena yang ada hanya jagung, ketela, ubi jalar, (BERAS TIDAK ADA). selain rumah penduduk masih jarang dan kalapun ada hanya untuk keluarga.
tidak seperti saat ini semua kepentingan masuk dan pembanguna marak di mana, kami pun heran darimana datangnya orang2 membangung begitu pesat, penduduk asli gili trawangan jadi terperangah melihat perkmbangan seperti sekarang, maklum akses kemana2 mash sangat terbatas.
jika berkenan mungkin sebaiknya suatu saat nanti bisa nginep di gili trawangan trus kita bakar ikan dan cerita sejarah dengan warga asli. karena yang ada sekarang blum tentu warga asli yang di ketemukan. maklum di mana ada gula di situ semut berdatangan.
salam hangat dari kami warga gili trawangan
saya h. yant\
081915907779 contact person
@h yant:
tawaran yang menarik, saya pasti kembali ke gili trawangan karena belum sempat menjelajah keindahannya..