Peziarahan Abadi

Menapaki Kehidupan, Memaknai Perjalanan

Perisean

August30

Inilah acara yang tidak selalu ada di Lombok, saat itu acara perisean ini diadakan untuk menyambut 17 Agustus. Perisean adalah pertandingan beladiri dengan menggunakan tongkat rotan sebagai pemukul dan perisai kayu dan kulit sebagai penangkis antara dua orang pedadu/pendekar. Pertandingan khas Lombok ini awalnya adalah acara yang digunakan untuk ritual memanggil hujan.
Perisean

Pertandingan kali ini adalah pertandingan antar desa, setiap desa mengirimkan 5 wakilnya. Masing-masing pendekar bertanding selama tiga ronde dengan waktu tiga menit setiap rondenya dan istirahat satu menit. Yang dapat memukul jatuh atau membuat kepala lawan berdarah atau membuat lawan menyerah dinyatakan sebagai pemenang. Tetapi apabila hanya melukai selain kepala, dan masing2 tidak ada yang menyerah sampai akhir pertandingan dianggap seri -tidak ada yang kalah dan menang-. Bagian tubuh yang boleh dipukul dengan rotan adalah pusar ke atas.

Pak Agus yang menjadi pemandu kami dengan fasih menceritakan segala hal tentang perisean ini karena beliau ternyata masa mudanya juga sering bertanding. Pertandingan saat itu ditonton oleh banyak sekali orang karena memang tiket masuknya murah, cuma Rp. 1500, atau yang mau masuk di tempat undangan khusus harus membayar Rp. 25.000. Pertandingan yang ditampilkan cukup menarik, kalau seorang pendekar terlalu banyak menghindar atau menjauh akan diberi peringatan. Musik yang mirip gamelan jawa dan Bali dengan kendang yang menyentak-nyentak membuat pertandingan semakin ramai.
Perisean

posted under wacana
2 Comments to

“Perisean”

  1. On September 9th, 2005 at 2:40 am ari Says:

    kirim ke korantempo yuk…
    nggak perlu panjang, sependek ini cukup deh kayaknya;-)

  2. On September 9th, 2005 at 2:40 am ari Says:

    kirim ke korantempo yuk…
    nggak perlu panjang, sependek ini cukup deh kayaknya;-)

Email will not be published

Website example

Your Comment:

 
BelanjaDiskon.com