Taman Narmada dan Puri Lingsar(lombok11)
Rabu, 17 Agustus 2005
Ini hari terakhir kami, sambil sekalian check out kami hanya akan melakukan city tour, menuju tempat wisata di sekitar Kota Mataram, antara lain ke Taman Narmada dan Puri Lingsar. Di Taman Narmada terdapat sumber air yang dipercaya bisa menjadikan awet muda bagi yang meminumnya atau membasuhkan mukany dengan air itu. Taman Narmada adalah replika dari Gunung Rinjani, ada tempat berundak dengan puncaknya dengan tiruan Danau Segara Anakan. Taman ini dibangun tahun 1805 oleh Raja Mataram Lombok yang senang sekali dengan Rinjani tapi karena usianya maka ia tidak kuat lagi untuk mendaki, kemudian ia membangun replika Rinjani agar tetap serasa menikmati Rinjani.

Di tempat ini terdapat Pura Kalasa, tempat beribadah umat Hindu Bali, saat itu kami juga tidak bisa melihat tempat “air awet muda” karena sedang ada ritual keagamaan di Pura itu. Sedangkan di bawah terdapat Kolam renang yang ramai dengan anak2 kecil dan anak sekolah yang hari itu kebetulan libur.
Pura Lingsar
Tempat ini merupakan Pura tetapi menurut pemandu lokal pura itu digunakan untuk beribada juga oleh Suku Sasak yang menganut Islam. Bahkan secara rutin diadakan doa bersama wakil2 agama yang ada di Lombok. Untuk menjaga kedamaian, di sekitar tempat itu juga dilarang memakan bahkan menyembelih binatang2 yang dianggap suci oleh masing2 agama.

Ketika kami masuk, kami ditawari untuk memakai selendang untuk diselempangkan untuk menghormati tempat yang suci tersebut. Kami juga memberi sumbangan sukarela untuk perawatan pura. Kalau waktu kami cukup sebenarnya juga bisa mengambil telur untuk nanti diumpankan kepada “ikan Tuna” yang dipercaya akan terlihat jika kita memiliki keberuntungan. Ikan Tuna itu memang dianggap suci dan dapat melihat keberuntungan seseorang. Kami sempat melihat kolam tempat ikan aneh itu yang tidak pernah kering di musim kemarau dan tidak pernah meluap di musim hujan, batas airnya tetap sama. Ada juga ritual melempar uang logam ke kolam tersebut sambil membalik badan. Di sekitar lokasi tampak dua kelompok orang yang pertama adalah yang beragama Hindu dengan sesajen-sesajennya dan di sebelah bangunan lain tampak Umat Muslim yang menganut “Waktu Telu”. Mereka kebetulan akan bersembahyang di tempat itu yang dilangsungkan rutin setiap minggunya.
Sungguh suatu demonstrasi nyata kedamaian antarkepercayaan. Pertunjukan suasana yang saling menghargai, menghormati, dan bekerjasama. Semoga pertunjukan ini bukan hanya di Lombok, tapi juga di Indonesia tercinta, atau di dunia bahkan. Damai di Bumi!!
Saya udah 17thn hidup di lombok tapi ga pernah menemukan kalo2 ternyata semenarik ini…
Ngalah2in ulasan departemen wisata, bang! Salut!
itu bukan kerukunan agama namanya!!! tp gak belajar dan gak tau kalo itu adalah salah!! ngawaaaaaaaakkkkkkkkk
Saya belum pernah ke Lombok tapi pengen ke sana, terutama tau tentang pura2 di daerah Lombok, mudah2an kesampaian, doain ya, salut sama umat dilombok, semoga selalu rukun wlpn beda kepercayaan.