Sep 29 2005

Korporasi Tanpa Batas

Published by budi at 2:35 pm under resensi

The Corporation

Ini merupakan sinopsis dari bab 5 dari buku “The Corporation” karangan Joel Balkan. Buku The Corporation sangat menarik, menelanjangi perilaku korporasi. Memaparkan banyak wawancara dengan eksekutif2 perusahaan multinasional macam BP, Pfizer, dll, juga pakar2 yang berhubungan dengan topik yang dibahas.
Layak disimak sampai tuntas bukunya, membuka kedok korporasi bahwa apapun yang mereka lakukan sebenarnya adalah untuk kepentingannya sendiri dan pemilik saham, bahkan dalam program “sosial” atau “kampanye lingkungan hidup”.

If the corporation were a person, would that person be a psychopath?

Seperti halnya Psikopat, Perusahaan juga tidak mempunyai tanggungjawab, ia menempatkan orang lain pada suatu resiko untuk memuaskan tujuannya yaitu memaksimalkan laba, karenanya membahayakan pekerja dan pelanggan, dan merusak lingkungan. Korporasi memanipulasi segalanya. Tujuan besarnya adalah menjadi yang terbaik, menjadi nomer satu. Ia tidak mempunyai empati, berusaha menolak bertanggungjawab atas aksinya. Relasinya dengan yang lain hanyalah ilusi, melalui public-relation yang mempermak wajahnya, melalui orang2 marketing yang selalu memberi citra positif dirinya. Nah, jika korporasi ini bisa dimetaforkan dengan manusia, maka ia adalah manusia sakit jiwa, bukan?

Pesan utama buku ini adalah: melalui sifat psikopatnya, “firms make good people do bad things”!
Mark Barry, Seorang “Competitive Intelligence Profesional” menceritakan bagiamana ia mengorek perusahaan saingan dengan cara apapun semisal dengan menjadi seolah head-hunter yang menawari eksekutif perusahaan saingan dengan pekerjaan menarik boongan dan macam-macam kegiatan yang ia sendiri mengakui tidak akan melakukannya dalam kehidupan pribadinya. Ia menjadi bersifat mendua juga -> gejala psykopathic?

====

Korporasi Tanpa Batas
Sebuah Sinopsis bab 5 dari buku “The Corporation”

Korporasi juga berarti segala hal tentang memperoleh kekayaan, dan sarana yang sangat efektif untuk mencapainya. Tidak ada batasan, apakah moral, etika, atau perundangan, korporasi dapat meng-eksploitasi (merekayasa) batas untuk memperoleh kekayaan untuk diri mereka dan pemiliknya.

Pada pertengahan hingga akhir abad ini, korporasi berusaha mencari dan akhirnya memperoleh hak-hak untuk eksploitasi kebanyakan dari sumber alam dunia dan hampir semua area usaha manusia.
Sekarang kenyataannya semua kegiatan ekonomi dilakukan dalam bentuk korporasi. Bagaimanapun, sisa penghalang besar korporasi mengatur segalanya adalah adanya ruang publik.

Tetapi melalui suatu proses yang kita kenal sebagai privatisasi, pemerintah sudah mulai menyerahkan institusi yang secara alami adalah ruang publik dalam kendali korporasi. Tidak ada ruang publik yang kebal terhadap penyusupan korporasi. Air dan pusat pembangkit listrik, polisi, dinas pemadam kebakaran dan gawat darurat, berbagai pusat pelayanan publik, jasa kesejahteraan, jaminan sosial, sekolah dan universitas, pusat riset, penjara, pelabuhan udara, pelayanan kesehatan, gen, penyiaran, spektrum elektromagnetik, taman publik, dan jalan tol, semua sedang mengalami atau paling tidak dipertimbangkan-untuk-proses privatisasi sebagian maupun keseluruhannya.

“Pasar pendidikan” menjadi “masalah besar” karena masih sedikitnya kehadiran perusahaan pengelola, maka bidang ini akan dieksploitasi dengan cepat dalam tahun-tahun selanjutnya, disejajarkan dengan pelayanan kesehatan yang telah tigapuluh tahun yang lalu dikelola secara swasta. Meski, penganjur sebenarnya tidak mempunyai bukti kuat untuk mendukung klaim mereka bahwa sekolah swasta berkinerja lebih baik, dalam kaitan dengan hasil belajar muridnya, dibanding sekolah negeri. Saham Lembaga Pendidikan Edison, yang sempat mencapai $ 21,68 di pasar bursa Nasdaq, terjun menjadi kurang dari satu dollar.

Institusi publik secara alami adalah cacat, begitulah menurut pendukung privatisasi, sebab mereka bersandar pada sesuatu yang tak realistis –tidak sepenuhnya egois dan materialis—yang merupakan konsep alami manusia.
Meskipun pelayanan swasta dalam beberapa ukuran dan dalam beberapa hal terbukti lebih efektif dibanding pelayanan umum, privatisasi mempunyai cacat sebagai solusi jangka panjang untuk permasalahan dalam masyarakat. Secara filosofi, privatisasi menyimpang dan belum paripurna dalam konsep manusiawi. Egoisme dan keinginan akan material adalah hanya bagian alami dari diri kita, tidak secara mutlak. Mendasarkan suatu sistem sosial dan ekonomi pada konsep ini mempunyai bahaya yang mendasar. Pada tataran praktis, privatisasi mempunyai cacat untuk dipercayai melayani masyarakat dengan korporasinya yang mencari-keuntungan-belaka. Berbeda dengan institusi publik, yang memang dimandatkan hanya untuk melayani masyarakat, korporasi secara resmi diharuskan menempatkan kepentingan mereka sendiri di atas semua kepentingan orang lain. Korporasi boleh bertindak untuk melayani masyarakat ketika hal itu juga berdampak mendapatkan keuntungan baginya. Tetapi mereka juga akan dengan cepat mengorbankan pelayanan masyarakat –dan hal ini adalah sah untuk dilakukannya– ketika yang lebih diperlukan adalah mendahulukan kepentingannya sendiri.

Korporasi juga menyasar anak-anak, anak kecil dianggap sebagai “konsumen masa depan … menyuguhkan pasar yang sangat besar.” Pemasang iklan menembus media yang dibatasi penjagaan orang tua dan melibatkan kuasa anak-anak untuk melakukan bujukan yang pantas dipertimbangkan orangtua mereka. Itu terjadi karena pemasar sadar anak lebih mudah untuk dimanipulasi dibanding orang dewasa. Menyodorkan makanan berlemak tinggi (junkfood), cepatsaji, mengandung banyak gula, secara langsung ke anak-anak adalah salah satu taktik kontroversial dari pemasar anak-anak.

Mereka melakukan riset yang didukung oleh psikolog anak untuk memuluskan usahanya. Mereka membuat “rengekan yang efektif” agar anak mempunyai alasan yang tepat untuk disodorkan kepada orangtua mereka sehingga membeli barang tertentu, bukan hanya barang yang dekat dengan mereka atau makanan yang mereka makan (meski sebenarnya sebagian besar sangat tidak berguna buat mereka) tetapi juga barang2 teknologi tinggi yang dipakai oleh orangtua mereka seperti mobil, komputer, atau televisi.

Ruang-ruang publik juga menjadi sasaran korporasi, lapangan-lapangan tempat bermain bola menjadi apartemen kelas atas dan pertokoan atau mall, taman-taman kota menjadi perkantoran dilengkapi dengan “sarana rekreasi” berbagai restoran makanan cepatsaji, jalan-jalan yang merupakan tempat orang untuk sekedar berpindah lokasi dijejali poster dan banner-banner tempat korporasi menawarkan produk-produknya.

Demikianlah bagaimana korporasi memiliki kecenderungan mengeksploitasi segala hal di dunia ini, tak terkecuali ruang-ruang publik!

Popularity: 11% [?]

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Budi Pruwanto's Facebook profile