Feb 08 2006

Angkatan Muda, Tingkatkan Produksi!

Published by budi at 9:27 am under liputan

Pokok pikiran yang disampaikan Pram yang terngiang minimal untukku adalah tentang produksi, ketika Pram menilai Bangsa ini baru bisa dibenahi jika Produksi lebih besar daripada konsumsi. Jurang antara pola hidup konsumtif yang semakin besar dan produksi semakin kecil menyebabkan “benua korupsi”. Dengan kata lain, mau melenyapkan korupsi yang tumbuh subur di Indonesia? Perbanyak produksi dan kurangi konsumsi. Apalagi untuk angkatan muda, harus semakin dipupuk untuk ber-roduksi, menghasilkan karya meninggalkan gaya hidup konsumtif.
Hal ini beberapa kali diulang dalam setiap kali wawancara dan ketika malam itu, Senin 6 Februari 2006, tepat pada HUT-nya ke-81. Dirayakan di Teater Kecil, TIM, dengan diisi pameran sampul bukunya yang telah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan penjualan buku-buku karyanya.

Angkatan Muda dan Pram
Angkatan Muda -begitulah sebutan Pram untuk orang muda- selalu diangkat Pram dalam setiap kesempatan. Ia tak henti-hentinya pula mengulang, sejarah Indonesia dibuat oleh angkatan muda, mulai dari angkatan muda yang belajar di Belanda sebelum 1928, hingga terciptanya momen Sumpah Pemuda 1928, kemerdekaan Indonesia 1945, sampai tumbangnya Suharto pada 1988. Terlihat jelas Angkatan muda-lah yang bergerak di depan. Tetapi ia juga menyayangkan, tidak ada pemimpin yang terlahir dari angkatan muda setelah Sukarno!
Dukungannya secara politik terhadap Angkatan Muda jelas ditunjukkan ketika ia bergabung dengan PRD, yang memang hampir semua anggotanya angkatan muda

Indonesia dan Pram
“Apa yang paling diingat Pram ketika saat ini sudah pikun (sesuai pengakuan Pram)” seorang bertanya. Pram menjelaskan sekalilagi kepikunannya yang membuatnya tak bisa lagi memilih kata, tapi ia masih mempunyai proyek untuk mendokumentasikan tentang geografi Indonesia. Hal itu dirangkum moderator sebagai kencintaan Pram tentang Indonesia, “Indonesia, itulah yang paling diingat Pram.”

Pram Kini

Pram kini, setelah 81 tahun kehidupannya yang ia sendiri juga tak menyangka bisa menempuh usia itu, mengaku sudah pikun dan sudah tidak menulis lagi sejak 10 tahun lalu. Pendengarannya pun juga sudah memburuk sehingga moderator harus mengulang dengan mendekat ke telinga Pram agar lebih jelas menerima suara. Tapi ia tetap tegas, tercermin ketika ia ditanya tentang film right, bagaimana jika karyanya difilmkan tetapi ternyata tidak sesuai dengan spirit cerita yang dimaksud Pram.
“Film bukan bidang saya, yang penting mereka membayar 1.5 M untuk copyright”
Dan Yeni Rosa Damayanti -seorang aktifis LSM, dulu aktifis mahasiswa saat reformasi- meradang,”Kapitalis!” Dan Pram menjawab,”Itu adalah hak saya sebagai pengarang, saat buku saya dibakar, perpustakaan dihancurkan, tidak ada yang membela saya.”
Dan muncul pula pembelaan dari Max Lane -penerjemah buku2 Pram dalam Bahasa Inggris, seorang Dosen Universitas di Australia- yang mengatakan dalam pembuatan film, yang muncul adalah hubungan diperas dan memeras, dan pengarang adalah yang diperas, justru Pram baginya berani untuk memutuskan agar tidak diperas terlalu banyak sebagai pengarang yang memang patut untuk dihargai. Ia juaga menambahkan usul agar karangan Pram lebih banyak diterbitkan dan dijadikan bacaan wajib di sekolah, karena karya Pram menurut Max Lane adalah karya besar bangsa Indonesia.
Ia masih juga merokok 32 batang sehari, meski diimbangi minum vitamin C setiap hari. Baru terbaring di Rumah sakit, malam itu ia tetap tampil tegar untuk ukuran seorang tua berumur 81 tahun, menginspirasikan ketegarannya dalam setiap penindasan yang diterima sebagai konsekuensi keberaniannya untuk melawan.

“Angkatan muda harus punya keberanian. Kalau tidak punya, sama saja dengan ternak yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri.”
– Pramoedya Ananta Toer

“Semua percuma kalau toh harus diperintah Angkatan Tua yang bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan. Percuma, Tuan. Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh, ikut juga jadi bodoh, Tuan.”
Anak Semua Bangsa, Pram

Popularity: 9% [?]

One Response to “Angkatan Muda, Tingkatkan Produksi!”

  1. sigit kurniawanon 08 Feb 2006 at 12:31 pm

    Emang, bagus tuh pesan Pramoedya, yakni produksi. Aku pikir Bangsa ini mudah terjajah dalam segala bentuknya karena tidak mau, tidak berani, tidak menyadari dirinya punya potensi, untuk berproduksi. Dan kolonialisme gaya baru cenderung memperlakukan kita-kita sebagai konsumen. Konsumen tergantung pada konsumen. Kebutuhan diciptakan. Kita ‘dipaksa’ mengkonsumsi. Inilah “consumer society” yang digagas Jean Baudrillard. Nah, salah satu awal bentuk perlawanan dari kita adalah menumbuhkan sikap kritis. Itu tahap pertama dulu, membangkitkan awareness orang dulu. Itu bang Budi dan neng Ari. Kalo sempet mampir juga diblogku: www.peziarahmuda.blogspot.com. [btw, link ke blogku mendingan pake yang alamat itu aja karena blog yang di friendster tuh dah tidak up to date lage…] Tengkyu yo…but, your blog is oke juga….

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Budi Pruwanto's Facebook profile