Jun 22 2006
Bali Hari I, Tari Barong-Batuan-Ubud-Kintamani-Sanur
Pagi itu sesuai dengan rencana kami bisa bangun pagi, untung, tak terasa lagi capek, mungkin luluh oleh gelora menikmati Bali. Setelah mandi dan berbenah, kita menuju tempat makan. Saat membuka kamar, di depan ada cowok bule bugil. “God morning, How are you”, sapanya terlebih dulu, kutimpali dan ngobrol beberapa saat, ternyata dia dari Brazil. Ia menginap baru sehari juga, tapi sudah jalan selama dua bulan. Ia datang bersama teman wanitanya, hmmm TTM kali yee, teman tapi mesra;) Saat makan pagi bareng, obrolan berlanjut. Lumayan juga nih Losmen, biaya 40rb sudah termasuk makan pagi untuk berdua. Ada dua pilihan, aku memilih omelet dan minum kopi. Sambila menikmati makanan panas plus kopi panas, obrolan pun menjadi lebih hangat. Ia bercerita tinggal dan cari kerja di Inggris sebagai pramusaji dan setelah terkumpul uang, melancong berbackpacking ke Asia Tenggara. Ia sudah ke Vietnam, Thailand, dan Malaysia, singgah di Indonesia, pertama kali ke Bromo-Tengger, dan ketemu kami di Bali. Ia menceritakan keindahan alam dan budaya Indonesia, keramahan orang-orangnya -hiks.., semoga dikau tak terkena sweeping-
Hanya saja Ia juga mengeluhkan transportasi dan fasilitas di beberapa tempat terutama penyedia informasi tentang tempat wisata. Di Bali pun ia kesulitan dengan transportasi, mau naik motor gak punya ijin internasional, mau pake travel masih kelewat mahal buat dia, mau pakai angkutan umum juga susah.
Obrolan berlanjut tentang kehidupannya di Inggris, ketiadaan rasialisme, kebebasannya mencari nafkah, dan keudahan mendapat uang dengan bekerja sebagai pramuwisma, yang pasti bisa sebagai modal jalan-jalan tiga bulan dengan bekerja delapan bulan! Tentu itu juga tak ia dapatkan di Brazil.
Obrolan terputus karena Bang Komang sudah menjemput kami dan kami pun berangkat, sebenarnya kami ingin sekali mengajak mereka berkeliling Bali bersama, tapi perlu ijin khusus untuk mengantar turis asing.
Abang Komang ini aku kenal sebagai senior, kakak kelas di SMA. Badannya bertambah besar, sama seperti aku tentunya, dan kulitnya terbakar matahari, “Ya beginilah pekerja wisata, Bud, tiap hari dipanggang matahari” Kami naik mobilnya, kijang kapsul warna hitam. Menyusur Gang Poppie 2 yang hanya selebar mobil, menuju Jalan Legian dan kami memulai ngobrol bertukar rencana. Kami memaparkan rencana perjalanan ala kami dari berbagai sumber terutama internet, yang digagalkan adalah rencana ke airterjun Git-Git dan melihat lumba-lumba di Pantai Lovina. Juga Pura TampakSiring, yang termasuk jajaran pura agung di Bali. Ia tidak merekomendasi demi keamanan dan kenyamanan karena banyak turis yang sering kena “palak” termasuk salahsatu kliennya. Kebetulan sudah banyak pula biro-biro perjalanan yang akhirnya memboikot tujuan ke pura ini. Kami menuju Batuan menyusur Jalan Bypass, melewati Sanur dan menuju salahsatu dari sekian banyak tempat pertunjukan Tari Barong. Setelah itu kami sepakati untuk mulai dengan nonton Barong di Batu Bulan.
Tari Barong
Tari Barong ini secara singkat mengisahkan Kebaikan yang diwakili Barong dengan kejahatan yang diwakili Rangda. Biaya masuk Rp 25.000 per orang untuk wisatawan lokal. Sejak Bom Bali memang biaya-biaya untuk wisatawan lokal yang dulu hanya dilirik sebelah mata, kini diturunkan dengan harapan menyedot semakin banyak wisatawan lokal yang terbukti setelah bom bali I apalagi bom bali II lebih banyak berkunjung ke Bali.
Musik gamelan Bali yang khas mengiringi penari-penari Barong. Dialognya menggunakan bahasa Bali sehingga sukar dimengerti. Meski begitu sedikit-sedikit ada bumbu komedi situasi, jadi penonton yang ternyata fifty-fifty antara bule dengan lokal bisa juga ketawa. Pertunjukan selama 1 jam itu begitu mengasyikkan sehingga tak terasa banyak jepretan kamera kuarahkan dari kamera manualku Nikon FM.
Rumah Adat Bali, Batuan
Selanjutnya kami menuju sebuah rumah adat. Rumah ini merupakan tipe standar rumah adat di Bali. Hampir semua rumah tradisional mempunyai pembagian yang sama. Di pedesaan Bali, semua bentuk rumah hampir sama, di depan ada kandang peliharaan, biasanya babi, di arah tenggara ada pura keluarga, di samping ada rumah untuk anak, di belakangnya untuk orangtua.
Pura Puseh, Batuan
Inilah pura yang pertama kali yang kami kunjungi di Bali. Tak heran Pulau ini disebut Pulau Sejuta Pura, setiap rumah mempunyai Pura keluarga, setiap desa mempunyai pura juga, belum lagi di tempat-tempat tertentu.
Pura Puseh di Batuan ini termasuk pura tua di Bali. Pura di Bali sarat dengan makna “metafisik”. Tidak hanya berfungsi sekedar sebagai tempat berkumpul dan bersembahyang bersama, tetapi setiap bangunan mempunyai arti terutama dalam hubungannya untuk menjaga keselarasan dengan alam. Untuk membangun, memperbaiki, dan memugar pun selalu dilakukan dengan ritual-ritual khusus yang tak sembarang orang bisa.
Saat masuk kami melihat seorang tetua adat sedang melakukan upacara sendiri. Kami banyak juga berbincang tentang orang yang menjadi tetua ini. Orang ini ditunjuk melalui pertanda dan ia akan mengabdikan dirinya secara penuh untuk menjadi tetua adat.
Lukisan Telur, Batuan
Dalam perjalanan kami diajak singgah di suatu desa yang di sepanjang jalan terdapat pengrajin telur. Terlihat beberapa orang anakmuda melukis telur kayu. ternyata memang ada beberap jenis telur yang dilukis, ada telur kayu, telur bebek, dan yang paling besar adalah telur burung onta.
Telur-telur asli diolah dengan mengeluarkan isi telur dan melukis cangkang atau bahkan mengukirnya! Untuk sentuhan akhir ada yang diwarna, dipernis, dan dimasukkan dalam kotak kaca. Ada pula yang diberi lampu di dalamnya. Ukiran atau lukisan terlihat tak sederhana, unik dan kebanyakan berupa lukisan khas bali seperti barong, leak, atau tari kecak.
Babi panggang Ny Oka Ubud
Sesampai di Ubud hari telah siang. Kami hendak makan siang, dan memang rencana kami sejak awal adalah ingin menikmati masakan ini. Selain keindahan tempat wisata, budaya, dan keramahan orangnya, ternyata Bali juga menyimpan potensi wisata yang tak kalah menariknya, yaitu wisata kuliner. Banyak makanan khas Bali yang sangat rugi bila tak dicoba.
Ketika kami masuk, di depan sudah ada babi besar yang sudah terpanggang. Kedai Babi Panggang Ny. Oka ini sudah tampak ramai. Untung tak sesuai informasi yang kami dapat dari internet yang menyuruh kami datang sebelum pk 10.00 karena kalau lewat dari waktu itu pasti kehabisan. Banyak pula bule2 dari berbagai negara, di suatu meja besar mereka terdengar saling menanyakan asal dan bergantian mengagumi keindahan Bali. Mereka saling tukar informasi tentang daerah wisata menarik dan cara menuju ke sana.
Kami sendiri mendengarkan cerita Bang Komang. Awalnya kedai ini hanya digunakan makan siang oleh sopir dan pemandu wisata saat mengantarkan wisatawan ke daerah ubud. Tetapi ternyata semakin lama banyak wisatawan yang tergiur enaknya masakan Ny. Oka, dan semakin hari dari mulut ke mulut semakin ramailah kedai itu.
Puri Ubud
Puri Ubud ini adalah milik seorang bangsawan penguasa daerah di Ubud. Rumah-rumahnya dihiasi ukiran, patung, dan sangat luas. Bahkan dengan beberapa ratus dollar, wisatawan bisa menikmati tidur di puri ini. Sangat kelihatan kerumitan sekaligus keindahan ukiran-ukiran yang menghiasi setiap kayu, furnitur, dan di setiap sudut rumah. Taman-taman kecil dan indah juga menghiasi setiap sudut puri.
Kintamani Danau Batur
Selepas dari Ubud, kami menyusuri jalan yang terus menanjak menuju Kintamani. Tujuan kami adalah Danau Batur yang terletak di kaki Gunung Batur. Setelah memarkir mobil di jalan, kami menikmati danau dan gunung Batur di tepi jalan. Saat itu cuaca cerah, langit biru berawan. Dari tempat itu terlihat Gunung Batur tampak gersang. Tetapi paduan keindahan alam di situ rugi bila terlewatkan. Meski matahari panas membakar kulit, namun kami tak bosan menikmati pemandangannya.
Di seberang tampak kampung Trunyan tempat adanya tempat pemakaman tanpa dikubur tapi tak berbau. Sayangnya tempat ini tidak direkomendasikan karena banyak wisatawan yang “dipalak”. Jalan termudah Untuk menuju desa itu memang harus menggunakan perahu yang disewa secara pulang pergi, nah menurut cerita baik melalui internet maupun dari Bang Komang sendiri, memang mereka suka tak jujur dalam kesepakatan.
Tampak Siring
Selanjutnya kami menuju Pura Tirta Empul, Tampak Siring, sekitar 36 km arah utara Denpasar. Hari sudah mulai menjelang sore. Tapi saat itu banyak orang-orang, tua-muda-anak-anak sedang melakukan suatu ritual pembersihan diri di Pura Tampak Siring. Ada tujuh sumberair di suatu kolam dan mereka melakukan ritual membersihkan diri secara bergantian dengan menyeburkan diri ke kolam kemudian antri ke setiap sumberair. Air pancuran berasal dari kolam yang mataairnya menyembul dari tanah. Tirta Empul memang berarti airyang menyembur dari tanah.
Di sebelahnya tampak Istana Presiden RI, dibangun saat pemerintahan Presiden Soekarno, tapi ternyata tak boleh dimasuki umum. Situasi saat itu memang lumayan ramai, selain hari Sabtu, malam harinya Bulan akan bulat sempurna atau purnama, memang setiap Bulan Purnama, ada ritual khusus di Bali. Hari itu dianggap hari baik untuk melakukan persembahyangan. Ketika kami melintas di jalan-jalan memang banyak terlihat Orang-orang yang sedang melakukan ritual keagamaan.
Sanur
Sore itu kami mengunjungi teman lama yang sekarang tinggal di Sanur, Bang COkorda. Senang sekali kami ketemu teman yang tak ketemu sejak tahun 1993, sudah 13 tahun!! Bang Cokorda adalah Kakak Kelasku di SMA di Magelang yang kebetulan berasal dari daerah yang sama. Tentu pertemuan ini penuh dengan cerita-cerita kenangan selain bertukar info seputar kehidupan kami masing-masing.
Setelah itu kami juga menjumpai Bang Arif, kebetulan juga kakak kelas yang menjadi aparat penjaga keamanan negara di Sanur, Denpasar Selatan. Dari pertemuan-pertemuan ini lahir ide mengumpulkan teman-teman untuk makan malam di Jimbaran keesokan harinya.
Makan di Warung Bali, Pasar Senggol Sanur
Malamnya kami bermalam di Sanur. Di belakang hotel terdapat Pasar Senggol, sebutan Khas untuk Pasar Malam tempat berdagang berbagai macam keperluan sehari-hari dan makanan. Ada Warung Bali yang menjual makanan khas Bali. Kami tertarik untuk mencobanya. Hmm.., nikmat juga, meski kami habis tak sampai 20.000 untuk makan dan minum yang kami coba.
Bulan Purnama Pantai Sanur
Malam itu menunjukkan pukul 21.00 tetapi jalan-jalan di Sanur sudah sepi. Sanur tak semeriah Kuta yang seolah-olah hidup 24 jam. Meski masih cukup banyak kafe yang buka, tapi pengunjungnya sangat sedikit. Wajar kalau saat-saat ini dibilang sat sepi wisatawan. Dari banyaknya kafe yang ada, mestinya pernah ada saat-saat ramai sehingga kafe-kafe ini sanggup menampung wisatawan.
Perjalan ke pantai Sanur cukup singkat, kuranglebih 15 menit jalan santai. Jaln yang lengang cukup menyeramkan, terutama bagi kami berdua yang belum mengenal daerah itu. Di tepi pantai tampak beberapa kafe, restoran, pub dan sejenisnya berjajar menunggu pembeli. Terlihat hanya beberapa rombongan turis asing menikmati makan malam dan ngobrol. Di tepi pantai beberapa pasang orangmuda menikmati deburan ombak malam bulan purnama. Puas dan capek berjalan menyusur sekitar pantai, kami kembali ke hotel untuk beristirahat malam, mengumpulkan tenaga untuk menjelajah eksotisme Bali.
Popularity: 63% [?]

no need to be worry to come to bali …..
come and explore the excotic of bali.
Saya Aan tinggal di Jogja.
Saya mau menanyakan dimana saya bisa mendapatkan telur burung Onta?
Minta tolong di informasikan.
terimakasih.
Aan Java Javas
Ph. 0274 7413493
mas aan, telur burung onta yg diukir bisa didapat di daerah batuan, di situ banyak perajin/pelukis telur. daerah tepatnya saya lupa, yang pasti di daerah antara kuta dan ubud.
osa,saya minta wisata-wisata bali lebih di tonjolkan,sampai dengan ini cukup bagus
menarik….dan terimakasih telah memuat cerita perjalanannya, kebetulan saya akan menulis tentang, tari barong….