Peziarahan Abadi

Menapaki Kehidupan, Memaknai Perjalanan

Bali Hari III Sukawati-Kuta-Uluwatu

June22

Sewa Motor
Ada beberapa pertimbangan kenapa kami memutuskan naik motor, bukan memakai pemandu, atau menyewa mobil sekalian. Pertama, tentu alasan biaya, kedua karena aku cuman punya SIM C dan gak gape untuk setir mobil, ketiga, tidak hapal daerah Bali sehingga dengan naik motor pasti lebih mudah tanya kesana-kemari plus klo perlu masuk gang-gang sempit. Kenapa gak nyewa pemandu? Karena kami ingin merasakan suasana Bali dengan lebih santai.
Banyak sekali di pinggir jalan yang menyediakan sewa motor atau mobil. Tarifnya sangat beragam, ada baiknya mencoba beberapa tempat sebelum memutuskan memilih tempat penyewaan. Ada beberapa yang hanya menyerahkan KTP, tapi ada yang menandatangani perjanjian kontrak dan cukup menyerahkan fotocopy KTP. Penyewaan bisa harian, mingguan, bahkan bulanan. Tentu lebih lama waktu penyewaan, lebih murah tarif perharinya. Di Sanur harga penyewaan berkisar 35-50ribu perhari untuk sepeda motor. Di Kuta, lebih murah lagi bisa sampai 15-30ribu perhari. Kebanyakan di Bali menggunakan motor Mio, praktis, tak pakai kopling atau persnelling. Lumayan bisa ngebut hingga 80km/jam hanya saja akselesari kurang kenceng.

Sambil membawa peta gratisan dari sebuah majalah gratis yang ada di hotel, kami mencoba menuju pasar Sukawati, belanja oleh-oleh. Memang di Bali di tempat-tempat banyak turis berkumpul banyak terdapat majalah atau buletin gratis yang berisi iklan acara, iklan kegiatan, dan biasanya dibundel dengan peta gratis. Peta ini tidak begitu akurat tetapi cukup untuk menyusui jalan-jalan di Bali yang tak serumit Jakarta. Pun perlu ditambah berulangkali bertanya pada orang-orang di jalan yang cukup ramah dan selalu sedia membantu.

Belanja di Sukawati
Kami menuju jalan ke utara. Terlihat di peta sih sangat jelas dan tak begitu jauh, ternyata di jlan ada beberapa cabang jalan yang tak berpetunjuk :( Baru beberapa kilometer, kami sudah harus bertanya apakah jalur kami tepat. Akhirnya ditambah instink dan dua kali tanya lagi, kami bisa menemukan pasar Sukawati. Menurut petunjuk orang yang kebetulan kami tanyai, mereka bilang ada dua pasar sukawati. Dua pasar itu terletak berdekatan, yang baru katanya lebih bersih dan harga bersaing.

Kami menuju Pasar Sukawati “baru”. Pasar itu sepi pengunjung. Menurut penjual memang bulan-bulan ini sepi pengunjung. Kami dengan puas dan nyaman bisa menyusur lorong-lorong pasar, tanya-tanya harga, menawar atau langsung membeli bila harga cocok. setelah bertanya ke beberapa tempat, ternyata harga dari satu kios ke kios yang lain tak banyak beda. Kebanyakan bilang kalau kami pembeli pertama. Tak heran melihat betapa lebih banyak penjual yang ngobrol dengan tetangga daripada melayani pembeli yang minim.

sukawati

Jenis kerajinan dan oleh-oleh sangat beragam, mulai dari yang berciri modern, hingga yang khas, unik dan rumit. Kebanyakan kami beli untuk oleh-oleh. Puas membeli cindera mata di dalam, di kompleks luar kami berbelanja oleh-oleh makanan. Tak ketinggalan tentu ada beberapa jenis kacang bali dan tuak bali “dewi sri”. Karena bawaan yang sudah menumpuk dan waktu sudah lewat tengah hari, perut sudah lapar, maka kami pulang ke hotel untuk menurunkan hasil belanja ke hotel.

Makan di Warung Made

warungmade

Setelah itu kami tak istirahat, langsung menuju Kuta. Jalan menuju Kuta lebih mudah karena lewat bypass dan langsung ketemu Kuta. Peta Kuta yang detil juga banyak tersedia. Pertama kali yang kami tuju adalah tempat makan. Terpikir Warung Makan Made, banyak yang merekomendasikan tempat ini. Kami segera menyusur Legian Street tempat Warung itu. Suasana tak begitu ramai, waktu sudah menunjuk pukul 14.00. Kami memesan makanan aneh yang belum pernah kami rasakan dan kami tanya apa yang spesial dan khas, begitu pun minumannya, semua yang spesial Warung Made.

Pelayanan cepat, bersih, tapi harga menengah ke atas. Bukan harga warung lagi, tapi restoran. Tapi kami tak kecewa karena memang rasanya lumayan (meski tak seenak di Ny. Oka, Ubud)
Setelah makan dan bersantai sejenak melepas lelah setelah setengah hari belanja, kami lalu melanjutkan ke Pantai Kuta yang jaraknya tinggal 5 menit dari situ. Cuaca cerah, jalanan agak ramai, kendaraan banyak yang diparkir di tepi jalan, rapi. Di jalan cukup ramai kendaraan berlalu-lalang, baik motor maupun mobil. Banyak terlihat bule naik sepeda motor. Ada yang sambil membawa papan selancar.

Pantai Kuta
Pantai ini yang paling terkenal di Bali, paling ramai dan tentu paling banyak fasilitas di sekitarnya. Banyak hotel, restoran, kafe, dan segala penunjang pariwisata berjajar sepanjang pantainya. Tempat yang pas untuk menikmati tenggelamnya mentari. Banyak peselancar bermain di atas ombaknya yang tak penah beristirahat.

Di pantai yang berpasir lembut kecoklatan itu banyak yang menggunakannya untuk berjemur, ada yang berlari-lari, ada yang bermain bola, dan ada yang sedang menikmati pijatan perempuan-perempuan Bali. Kami sendiri lebih banyak duduk menikmati pemandangan sekitar dan berfoto ria.

kuta

Seorang ibu yang mengaku berasal dari Jawa setelah mendengar jawaban bahwa kami juga dari Jawa, memberikan kartu nama -lebih tepatnya kertas bertuliskan nama dan nomer kontak- kepada kami. Ia mengaku berprofesi pemijat, tapi juga boleh klo dijadikan pemandu wisata. Aku yang kebtulan berdektan dengan dia saat berbincang dengan seorang ibu lain memang mendengar obrolan mereka dalam bahasa Jawa. Orang Jawa ternyata lumayan banyak di Bali sebagai pendatang. Tetapi menurut beberapa literatur Orang Jawa mempunyai sejarah dan potensi konflik dengan orang Bali, tidak jauh dari sosial-ekonomi, dan agama. Saat ngobrol tak lupa sekalian menanyakan tempat toko Joger -pabrik kata-kata- yang hanya membuka toko di Bali.

Belanja di Joger

Kalau anda suka Joger, berarti anda waras, tetapi kalau anda tidak suka Joger, berarti anda lebih waras.
Bali Bagus, Joger Jelek.

Dan begitulah, kata-kata dipermainkan menjadi kalimat-kalimat lucu tapi menarik. Tak aneh bila toko kecil yang kami cari hingga berputar-putar Kuta memang sangat ramai. Kebetulan hari itu ada kunjungan sebuah sekolah yang singgah di toko Joger, maka tak ada tempat bergerak di dalam toko. Apalagi mencari kata-kata yang menarik, ntah karena semua menarik, atau karena terlalu banyak pilihan. Yang pastti kami lebih dari 1.5 jam sanggup bertahan.

Joger memang fenomena tersendiri. Dengan kreativitas dan inovasi mengutak-atik kata, bisnis ini mampu bertahan. Jurus anehnya ada yang menyebut dengan “anti-marketing”. Mana ada produk yang berslogan bahwa produknya jelek selain joger?? Tapi dengan mengusung berbagai produk baru cindera mata, dari kaos, stiker, gantungan kunci, hingga mug, bendera Joger semakin berkibar. Joger makin tak terpisah dengan Bali, karena di berbagai kalimat uniknya sering tersebut Bali.

Sunset di Uluwatu
Selanjutnya kami -sangat- bergegas karena mengejar sunset ke Uluwatu. Waktu sudah menunjuk pk 17.20 matahari masih lumayan tinggi, pengalaman kemarin di Tanah Lot, Sunset pk. 18.00. Tetapi kami belum pernah dan belum tahu secara pasti rute ke Uluwatu.
Sesuai peta, kami harus mengambil jalan ke arah utara. Kami melewati jalan menuju bandara dan terus ke utara, lewat Jimbaran, lewat Monumen Garuda Wisnu Kencana, teruus mengejar matahari yang pelan_tapi_pasti terbenam. Motor mio terpacu melewati jalan bergunung-gunung dan berkelok. Di jalanana sebenarnya pemandangan cukup dahsyat, sempat terpikir daripada terlambat lebih baik berhenti mencari tempat untuk melihat sunset, tapi kami tetap berusaha melihat matahari terbenam di Uluwatu.

Akhirnya kami sampai di Uluwatu. Kami harus mengenakan selendang dan membayar sumbangan. Kami berlari-lari menenteng tripod dan kamera, serta belanjaan dari Joger. Ada papan peringatan yang menyuruh waspada terhadap barang bawaan dan kacamata karena ada kera. Di milis, banyak orang yang mengisahkan kera yang mengambil kacamata, membuat kami selalu waspada.

Sebenarnya.., kami terlambat melihat sunset. Matahari sudah tenggelam, tapi kami tidak terlambat menikmati keindahan magis alam Uluwatu saat surya tenggelam. Semburat kuning-merah muncul dari cakrawala, seolah membakar awan. Latar belakang Pura uluwatu di kejauhan menambah eksotik suasana. Kami mengagumi pemandangan itu sebagai orang terakhir di situ.

Tari Kecak

kecak

Kami sempat mengikuti atraksi tari kecak yang pentas di uluwatu dengan latarbelakang sunset. Tarian ini unik karena ditarikan tanpa gamelan Bali yang juga unik itu.Menurut beberapa referensi, tarian ini berasal dari tarian sang hyang atau tarian sakral yang biasanya ditarikan di pelosok Bali untuk berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang disucikan. Penari yang dirasuki roh halus sebagai media penghubung untuk menyampaikan pesan leluhur. Cerita terkait epos Ramayana mulai disisipkan tahun 1930an dengan tokoh-tokohnya antaralain Rama, Shinta, Hanoman, dan Rahwana.

Hari telah mulai malam saat kami akan pulang menunuju Sanur. Kami menikmati jalanan di Bali dengan kampung yang masih asri dengan bulan purnama yang menerangi jalan. Lalulintas tak terlalu ramai dan pemandangan semakin memikat ketika dari atas tampak kilauan cahaya lampu kota kuta dari dekat GWK. Penginnya sih mampir ke GWK, tapi males aja ketika disodori tarif yang kalau gak salah 10000 per orang padahal patungnya belum selesai. Kepikir nanti saja kalau ke Bali dan patung GWK-nya sudah selesai baru deh mampir. Malam itu kami segera beristirahat di hotel setelah mengembalikan motor sewaan, beli sebotol bir dan kacang untuk teman menikmati malam.

posted under jalan-jalan
One Comment to

“Bali Hari III Sukawati-Kuta-Uluwatu”

  1. On July 18th, 2008 at 12:55 pm lilis_nanda Says:

    mau dunk petanya…pengen kesana tanpa travel wisata deh..tapi takut ke sasar ..hihih agustus ini rencanae pgn ke sana sama pacar,,,,

Email will not be published

Website example

Your Comment:

 
BelanjaDiskon.com