Jun 23 2006

Kekerasan? Nggak Banget

Published by budi at 5:11 pm under wacana

non_violence


Capek juga ya, kalau setiap baca koran, kita temui banyak banget berita seputar tindak kekerasan. Setiap nonton televisi, nggak sedikit program yang mempertontonkan adegan kekerasan.

Untuk menyelesaikan masalah pun, orang ternyata lebih memilih kekerasan fisik seperti memukuli penjahat yang tertangkap, membunuh orang yang dibenci, menganiaya orang lain untuk menunjukkan kekuatannya, merusak milik orang lain karena ketidaksukaan, dan lain-lain. Tapi, benar-benar selesai nggak sih masalahnya?

Kekerasan sayangnya nggak hanya dimonopoli orang secara pribadi. Bahkan dengan pengaruh yang lebih merusak kalau dilakukan segerombolan orang yang merasa kekerasan bisa menyelesaikan masalah.

Yang paling parah, coba kita cermati, pengguna kekerasan yang paling dahsyat adalah negara. Tanya kenapa? Karena negara punya kekuasaan dan kekuatan untuk bertindak secara luas dan secara hukum untuk menggerakkan rakyatnya, misalnya melakukan perang.

Asal tahu aja, menurut data statistik, lebih dari 110 juta nyawa manusia melayang dalam perang antarnegara, termasuk 15 juta korban Perang Dunia I (1914-1918) dan tidak kurang dari 50 juta korban PD II (1939-1945). Lebih mengerikan dari perang antarnegara, kuranglebih 170 juta rakyat dibunuh oleh pemerintahnya sendiri sejak awal abad 20 hingga 1997.

Hmm… sebenarnya, apa sih kekerasan itu? Yang disampaikan di atas hanya sebagian kecil dari kekerasan, yaitu kekerasan fisik. Banyak definisi yang bakal kamu temukan kalau mau baca buku-buku tentang kekerasan. Intinya,

kekerasan merupakan kekuatan dan tindakan secara fisik dan psikis, yang menghancurkan kehidupan, mengabaikan HAM, dan merusak lingkungan.

Jadi dengan pengertian ini, kekerasan nggak hanya kalau pelaku menggunakan kekuatan fisik, tapi juga psikis, seperti ancaman dan teror. Nggak cuma kalau ditujukan ke manusia, tapi juga ke lingkungan hidup. Di antaranya penebangan hutan atau penambangan tak terkendali, pencemaran lingkungan, hingga yang paling kecil kalau kita membuang sampah di sembarang tempat.

Ternyata luas banget pengertian kekerasan itu ya? Karena itu, tulisan ini dibatasi pada kekerasan ke manusia secara langsung.

Mengapa orang memilih jalan kekerasan? Setiap orang bisa mempunyai penjelasan yang berbeda. Pak Sigmund Freud mengatakan, setiap individu memang cenderung berperilaku menghancurkan obyek. Oom Camara secara singkat tapi tegas menerangkan dalam bukunya “Spiral Kekerasan” bahwa ketidakadilan adalah akar pertama kekerasan.

Orang yang mengalami ketidakadilan melawan dengan segala cara, termasuk kekerasan. Selanjutnya, pihak yang berkuasa meredamnya dengan kekerasan juga. Akhirnya, kekerasan tak pernah berakhir.

Sejak zaman batu pun, sudah ada kekerasan yang biasanya untuk mempertahankan hidup. Misalnya, perebutan daerah buruan atau lahan sumber makanan atau air. Perkembangan terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi. Senjata yang semula batu berubah total menjadi nuklir yang sangat dahsyat di zaman ini. Cara-cara kekerasan lebih banyak dipilih orang, terutama karena lebih mudah dan nggak memerlukan pemikiran mendalam.

Apakah kita bisa melenyapkan kekerasan? Sulit kaleee… Terbukti, banyak banget kejadian kekerasan di sekitar kita. Yang lebih penting, bagaimana kita bisa mengurangi penggunaan kekerasan. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kekerasan?

Nah, ini perlu mulai kita pikirkan dan lakukan bersama. Coba bayangkan, kalau setiap kekerasan dibalas dengan kekerasan. Wow, pasti nggak terkira banyaknya dan nggak akan ada akhirnya. Korbannya pun nggak hanya pihak yang berseteru, bisa saja orang lain yang nggak bersalah, bahkan nggak terlibat sama sekali. Parah kan?

Salah satu alternatif yang bisa mulai kita coba adalah melawan kekerasan tanpa kekerasan. Tanya lagi kenapa? Salahsatu penjelasan singkat, kebenaran itu relatif. Setiap orang yang melakukan tindakan, pasti punya dasar yang dianggapnya benar. Ini pasti terjadi dalam setiap konflik.

Kalau kita paham bahwa orang lain mungkin bisa benar, kenapa kita harus berbuat kekerasan yang nggak bakal menyelesaikan masalah? Dengan kekerasan nggak ada lagi ruang untuk saling mengerti.

Ada orang yang bakal menganggap tidak melawan kekerasan dengan kekerasan berarti pengecut. Sebenarnya sangat berbeda, pengecut itu karena takut, tetapi melawan tanpa kekerasan bisa berarti dengan berbagai tindakan positif lain. Bisa ngobrol atau dialog, lewat jalur hukum, atau bekerjasama yang tentunya saling menguntungkan.

Adakalanya kekerasan yang diterima korban dilakukan oleh banyak orang, terus-menerus, dan sangat menyakitkan. Maka, kuncinya tak lain dan tak bukan adalah solidaritas. Gerakan melawan tanpa kekerasan nggak akan jalan kalau hanya dilakukan orang per orang. Perlu kerjasama dan solidaritas dari semakin banyak orang, termasuk kamu-kamu. Tentunya, supaya gerakan itu bisa semakin mencapai tujuan.

Melakukan gerakan melawan kekerasan tanpa kekerasan bisa kita mulai dari hal sederhana, antara lain:

      Bersikap ramah terhadap semua orang. Sering terjadi konflik kekerasan dimulai karena kesal melihat orang yang marah-marah bukan?
      Penuh pengertian atau nggak berprasangka negatif yang berlebihan ke orang lain karena nggak semua orang yang kelihatan mencurigakan atau menyeramkan ingin melakukan kejahatan kok!
      Memperlakukan orang lain seperti halnya kamu ingin diperlakukan. Jujur aja deh…
      Mengutamakan dialog untuk menyelesaikan permasalahan. Nggak perlu pakai meja bundar, nggak pakai meja juga bisa.

Tunggu apalagi? Yuk, kita lawan kekerasan tanpa kekerasan bersama-sama sekarang juga!!! (aribudi)
[dimuat di buletin warnabangsa edisi III]

Popularity: 15% [?]

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Budi Pruwanto's Facebook profile