Peziarahan Abadi

Menapaki Kehidupan, Memaknai Perjalanan

Jam Gadang, Pasar Atas, dan Gulai Tambusu (Bag. 2)

February23

Sabtu, 20 Januari 2007

Jam Gadang

Pagi itu aku bangun dengan segar, udara dingin kota Bukittinggi membuat nyaman meski semalam melalui perjalanan panjang. Hotel Dymens berada di pusat kota, tak jauh dari Jam Gadang. Menurut teman kami –Herry– yang tinggal di Bukittinggi, Hotel ini termasuk hotel yang sudah lama berdiri dan hingga kini masih bertahan. Namun sayang, tampaknya tak ada peningkatan fasilitas yang bisa membuat hotel ini diminati, sehingga mungkin kalah bersaing dengan Novotel atau hotel baru lainnya. Tetapi hotel ini masih cukup ramai dengan berbagai acara dan tamu terutama rombongan.
Kebetulan di Bukittinggi saat itu diadakan pertemuan seluruh gubernur di Indonesia, dan pertemuan internasional alumni ESQ Training asuhan Ary Ginanjar. Meski begitu suasana Bukittinggi secara keseluruhan boleh dibilang tak terlalu ramai. Tak pernah macet kecuali di sebelah Pasar Atas yang dipenuhi dengan angkot dan bus.
Pagi itu aku dan arcon berjalan-jalan melihat Jam Gadang dan Pasar Atas. Suasana pagi di Bukittinggi tak terlalu ramai. Kami menyusuri jalan menuju Jam Gadang lewat Pasar Atas. Suasana pasar juga tak terlalu ramai meski jam telah menunjuk pk 8.30. Banyak lapak yang baru dibuka. Pertama kami menuju Jam Gadang dan tentu berfoto-ria. Menikmati panorama di sekitar Jam Gadang. Di kejauhan tampak Bukittinggi diapit Gunung Merapi dan Singgalang. Cuaca cerah ini tidak kami nikmati di hari-hari selanjutnya ketika kami di Bukittinggi. Sebagai daerah dataran tinggi, Bukittinggi layaknya Bogor, curah hujan tinggi dan di beberapa tempat sering berkabut.

Pasar Atas

Di Pasar Atas, terdapat banyak lapak penjual cinderamata, mulai dari baju, pernik-pernik khas Minangkabau, hingga lukisan. Sama seperti penjual di manapun di Indonesia, mereka punya kepercayaan penjual pertama adalah “penglaris” jadi bisa mendapatkan harga termurah. Nggak ngecek juga sih apakah pas hari sudah siang harga bertambah mahal atau sama saja. Arcon, temenku segera memilih-milih kaos dan cinderamata, kalau aku milih nanti-nanti saja di hari terakhir biar gak repot bawaannya.

penjual dadiah

Kemudian kami sempat bertanya dimana letak Pasar Lereng dan Pasar di Bawah, yang ternyata saling menyambung. Sebelum berangkat dan membaca referensi, kami pikir ketiga pasar tersebut berjauhan letaknya, ternyata berderet dan memang menunjukkan posisi. Pasar Atas letaknya berhadapan dengan Jam Gadang dan memang paling tinggi, kalau mau turun akan lewat Pasar Lereng yang terdapat banyak makanan tepatnya di Los Lambuang, dan kami mampir untuk makan pagi. Di jalan, ada yang jual Dadiah atau susu fermentasi khas Padang, dibuat di dalam tempat bambu, biasanya dimakan dengan emping atau ketan. Mungkin bisa disamakan dengan yogurt.

nasi kapau uni er

Di Pasar Lereng terdapat banyak warung makanan yang biasanya disebut nama pemiliknya, ada Nasi Kapau Uni Lis yang terkenal, ada juga Uni Er yang kata banyak orang rasanya tak kalah nendang. Kami memilih mencoba makanan di Uni Er, secara kata orang lebih murah dari Uni Lis, semua lauk dihidangkan di depan jadi memudahkan pembeli langsung memilih jenis lauk. Makanan yang jauh dari penjual diambil dengan menggunakan sendok sayur bertangkai panjang.

unier

Aku mencoba gulai tambusu yang khas Padang. Usus sapi yang didalamnya diisi dengan tahu. Minumnya aku coba teh taluak ato teh telur. Pokoknya nyoba makanan yang belum pernah dicoba deh. Dan rasanya uenak tenan… meski dengan harga yang tidak murah Rp. 12.000 untuk nasi kapau+ gulai tambusu, dan teh telur Rp. 3.500, jadi analisis arcon warung-warung ini untuk konsumsi turis, tidak untuk penduduk Bukittinggi itu sendiri.

Pasar lereng Bukittinggi

Setelah makan, kami berkeliling lagi menikmati suasana Pasar, barang-barang yang dijual, cindera mata, dan macam-macam karipiak sanjai. Baru pukul 10.30 sampai lagi di hotel. Goklas yang baru bangun tidur segera kami sodori gulai tambusu.

posted under jalan-jalan
4 Comments to

“Jam Gadang, Pasar Atas, dan Gulai Tambusu (Bag. 2)”

  1. On April 25th, 2007 at 5:00 pm defindal Says:

    “Los Lambuang” tu pointernya ke Lambung bang :) alias perut… heheheh..

    klo harga kan disesuaikan dengan penampilan yang datang… klo logatnya Jakarta,mah langsung diembat de.. heheheh…

  2. On April 25th, 2007 at 5:27 pm budi Says:

    ehm, si arcon sempat nongkron lama di situ, katanya sih emang yang makan ke situ cuman pendatang. tapi aku sih lebih setuju, mestinya klo pendatang apalagi berlogat jakarta ato jawa deh.. pati di mark-up tuh hehe, harusnya makan ke sono sama orang padang yah

  3. On March 16th, 2008 at 8:22 pm arin Says:

    awak urang bukik pulo mah.
    ado pulo yg labiah lamak.cubo makan talua barendo ni ir.alamaiknyo di gregeh

  4. On July 28th, 2008 at 10:53 am karmon Says:

    kangen pulang kampung. n makan lamak di pasar lereng, tapi jangan mahal nian. skr tinggal di lahat. jangan lupa oleh-oleh rendang ubi dn rendang telor ya.

Email will not be published

Website example

Your Comment:

 
BelanjaDiskon.com