Peziarahan Abadi

Menapaki Kehidupan, Memaknai Perjalanan

Lubang Jepang, Ngarai Sianok, Benteng Fort De Kock (Bag. 4)

February26

Minggu, 21 Januari 2007

ngarai sianok

Kunjungan pertama hari ini adalah ke Lubang Jepang di Taman Panorama, tempat yang bisa melihat Ngarai Sianok dengan jelas. Di bawah terlihat sungai tetapi dengan aliran air yang kecil. Dulu katanya sungai itu bisa dilewati perahu dan lebih menarik karena pengunjung bisa menyusuri ngarai. Tebing yang menjulang 90 derajat itu memang layak dikagumi keindahannya. Di kejauhan tampak Koto Gadang, ada jalan setapak menuju ke sana, tapi tentu kami berpikir 10X untuk menyusur jalan itu.

lubangjepang2

Di atas di tempat kami masuk ada tempat semacam gazebo untuk menikmati keindahan panorama, mungkin karena itu disebut taman panorama. Di sebelah kanan pintu masuk turun ke bawah, terdapat Lubang Jepang. Tampak peta yang menunjukkan lorong-lorong yang ada di dalam gua. Gua itu tampak terawat dengan 128 anak tangga dan pengaman semen di seputar lorong dan lampu neon. Sedangkan di beberapa tempat sengaja dibuat asli tanpa semen. Lorong-lorong itu memang cukup panjang dan di dalam terasa dingin, tidak sumpek, karena mempunyai beberapa lorong yang menuju ke luar.

lubangjepang

Kami sengaja meminta seorang pemandu mendampingi kami untuk mengetahui lebih banyak tentang gua ini. Hanya kayaknya lumayan mahal Rp. 30.000 untuk hanya kurang dari 1 jam. Gua ini mulai dibangun saat Jepang masuk, awalnya dibangun hingga 1,5 km menembus hingga Benteng Fort De Kock dan Jam Gadang tetapi sekarang Cuma 750m. Banyak sekali romusha atau para pekerja yang dipaksa untuk membuat lubang persembunyian ini dan tak ada yang tahu berapa yang mati. Menurut cerita pemandu, para romusha itu berasal kebanyakan dari Jawa. Di lubang itu ada tempat untuk memenjarakan romusha yang tak mau bekerja atau sakit, ada juga lubang yang ke arah Ngarai Sianok untuk membuang para romusha yang mati.

monyet

Cukup capek juga kami menyusuri lorong yang ternyata ke depannya akan dibuat diorama dan musium geologi. Selanjutnya kami naik dan menikmati pemandangan ngarai. Banyak penjual cinderamata dan lukisan. Di ujung paling kanan ada menara untuk lebih jelas melihat ngarai, ditemani monyet-monyet yang menanti uluran kacang turis.

Gua ini ditemukan tahun 1946 pada masa-masa perang kemerdekaan. Tahun 1986 mulai dijadikan tempat wisata dan diresmikan oleh Mendikbud kala itu, Fuad Hassan.

benteng

Segera kami melanjutkan ke Benteng Fort De Kock, tiket per-orang adalah Rp. 8000 sekalian masuk ke Kebun Binatang. Di dalam ada Rumah Gadang sebagai musium yang ternyata harus bayar lagi Rp. 1000. Untuk masuk ke Kebun Binatang melewati jembatan gantung yang cukup unik. Yang paling menarik bagi kami tentu Rumah Gadang yang dijadikan musium, Pengunjung bisa melihat sejarah Minangkabau, asal-usul, miniatur bangunan, macam-macam ukiran, macam-macam tradisi, dan ada juga binatang-binatang aneh yang diawetkan. Kebetulan gerimis turun dan kami sekalian berteduh di musium. Sayang ada beberapa koleksi yang rusak terkena air bocoran atap. Ada cerita yang menarik tentang sejarah Bukittinggi dan hubungannya dengan perang Padri.

rumahgadang2

Menurut legenda, Minangkabau dulunya pernah hampir dijajah oleh Majapahit, tapi berhubung orang minang yang banyak akal mereka bernegosiasi untuk adu-kerbau. Majapahit membawa kerbau terbesar dan terkuat dari Jawa sementara orang minang mengajukan anak kerbau kecil yang masih menyusu tapi di tanduknya diberi buluh tajam yang akhirnya bisa melukai kerbau dari Jawa hingga mati kehabisan darah, begitulah legenda turun-temurun arti Minangkabau, kerbau yang menang.

Hujan tak juga reda, padahal perut sudah lapar, maka kami nekad untuk pulang. Sebelumnya kami bertanya di mana letak Benteng Fort De Kock yang terkenal itu, kok kami nggak melihat ada benteng. Kami cuma melihat ada tandon air dari beton yang besar, dan ternyata itulah Benteng Fort De Kock, yang memang sejak beberapa puluh tahun yang lalu dijadikan tandon air, jadi pengunjung tak boleh lagi naik hingga ke atas benteng. Memang dari lokasinya bisa tampak sekeliling Kota Bukittinggi. Di sekeliling Benteng tersebut terdapat meriam kuno sebagai pertahanan. De Kock diambil dari nama Jenderal Belanda penakluk Diponegoro, ada yang menarik dari kisah ini.

Benteng Fort de Kock didirikan tahun 1826 untuk menangkal serangan orang Minangkabau terutama setelah perang Padri (1821-1827).

posted under jalan-jalan
10 Comments to

“Lubang Jepang, Ngarai Sianok, Benteng Fort De Kock (Bag. 4)”

  1. On August 30th, 2007 at 8:36 am dani Says:

    saya dulu pernah tinggal di Sumbar tepatnya di kota Padang sekitar thn 1990-1996 awal.. Sumbar merupakan daerah yang penuh dengan tempat wisata dan panorama yang sangat -sangat indah.. setiap akhir pekan saya pasti pergi mengunjungi tempat wisata yang sepertinya enam tahun belum cukup untuk merasakan semua yang ada di Sumbar.. salah satunya Bukit Tinggi, lubang Jepang.. dulu waktu saya ke lubang jepang ini masih tampak gelap, sembab, agak bau dan menurut saya kurang nyaman untuk dinikmati.. tapi kalau dilihat dari disini tampaknya sudah banyak perbaikan dan perkembangan salut buat pemerintah daerahnya yah… suatu hari nanti saya pasti balik lagi kesana…

  2. On February 16th, 2008 at 7:47 pm Soeratno Says:

    Padang memang memilik tempat-tempat wisata eksotik. kalau dikelola dan dikemas dengan baik bisa sejajar dengan Bali.

  3. On March 11th, 2008 at 10:53 am goen,chyen,you Says:

    hiiiiiiiiiiiii cerent banget fotonya.
    tapi kalau ga salah anak tangganya kan 132 bukan 128!!!!!!!!!!
    coba hitung lagi dech!!!!!!!!!!!{chyen}
    We love you bukittinggi!!!! tolong jaga goanya ya!
    sampe kami balik lagi ke sana, key!!!!{goen}

    WE’LL COME BACK AGAIN TO BUKITTINGGI
    WAIT US OK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. On March 29th, 2008 at 1:00 pm Naya Says:

    kangeen sama Ngarai Sianok..!

    Lai rancak bana candonyo, Ngarai Sianok..!

    Rancak gamba nan awak ambia..
    Cool..!

    Jadi pengin ke situ lagi… :’(

  5. On April 7th, 2008 at 4:27 pm aRfian Says:

    bang budipru, izin minta gambar2nya ya, untuk presentasi pelajaran kuliah, ga komersial kok
    boleh ya bang

    terima kasih :)
    aRfian agus, 01.3204

  6. On June 2nd, 2008 at 5:03 pm Pengunjung Sianok Says:

    Wow ,gw udah pernah kesana and ternyata ngarai sianok tu bagus,lubang jepang serem masa ada cafenya?

  7. On June 6th, 2008 at 5:48 pm budi Says:

    @Pengunjung Sianok:
    ya ngarai sianok bagus banget,
    tentang cafe, hmm saya gak tahu bagaimana perkembangannya sekarang, jadi atau nggak, demikian juga ruang2 yang rencananya waktu itu akan dijadikan museum…

  8. On July 11th, 2008 at 10:34 am Fauzia Says:

    Wah….jalan - jalan ke Bukittingi, ya mas?! Saya orang bukittinggi. sekarang kuliah di bandung. Udah setahun gak pulang sejak lebaran tahun lalu. Kangen ung…

  9. On July 11th, 2008 at 3:37 pm rahmat Says:

    Kalo mau ke Bukittinggi - padang kami bisa arrange kan, silakan e mail saya

  10. On July 18th, 2008 at 1:47 pm Jonnekdi Says:

    Sumatra barat emang rajanya…Wisata di pulau sumatra..

Email will not be published

Website example

Your Comment:

 
BelanjaDiskon.com