Peziarahan Abadi

Menapaki Kehidupan, Memaknai Perjalanan

Sejarah Jakarta

November21

“Kekacauan yang dialami bangsa Indonesia saat ini disebabkan kurang kesadaran sejarah, sehingga bangsa ini tidak tahu dari mana harus berangkat menata masa depannya. Untuk mengatasi kemelut negeri ini, harapan ditumpukan pada angkatan muda. Mereka haruslah memahami sejarah bangsa dan memandang segala persoalan secara dialektik.” Pramoedya Ananta Toer.

menarasyahbandar

Jakarta bagai magnet dan situasi di Jakarta dianggap barometer situasi-situasi di daerah lain Indonesia. Pembangunan di Jakarta mungkin bisa dibilang paling pesat diantara semua kota di Indonesia, tak kenal waktu pembangunan di Jakarta berjalan. Banyak gedung dibangun terus menerus selama 24 jam. Kehidupan orang-orangnya pun seolah tanpa istirahat. Lihat saja acara TV yang tak pernah berhenti siap menemani pemirsa sepanjang waktu.
Tahun ini Jakarta merayakan Ulang tahunnya yang ke 480. Sudah banyak di media lain membahas tentang perkembangan Jakarta di ulangtahunnya yang hampir setengah abad ini. Marilah kita menelisik sudut pandang lain, yaitu sejarah Jakarta. Ternyata sejarah Jakarta banyak diperdebatkan, ulang tahun Jakarta yang diklaim tanggal 22 Juni pun tidak luput dari banyak beda pandangan pakar-pakar sejarah.

Tanggal ulangtahun ini ditetapkan oleh Walikota Jakarta Sudiro (1953-1958).
Secara umum nama Jakarta dahulunya Jayakarta dianggap berasal dari Fatahillah, Panglima Perang tentara Demak yang menyerang Pelabuhan Sunda Kalapa dan jatuh pada tanggal 22 Juni 1527. Setelah menang perang Fatahillah mengganti Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Sayang hingga kini tidak ada bukti tertulis mengenai tanggal tepatnya serangan Fatahillah ini kalaupun ada justru menunjukkan beberapa hal yang simpangsiur. Beberapa sejarawan bahkan menganggap hal ini adalah dongeng.
Siapa Fatahillah? dari penelusuran penulis ternyata keberadaannya pun masih banyak dipertanyakan. Menurut seorang sejarawan Edi S Ekadjati (1989) bahkan nama Fatahillah baru ditampilkan pada 1929 oleh sejarawan Dr B Schrieke, melalui berbagai penafsiran tak langsung dan pengaitan atas dokumen-dokumen tua. Banyak sumber menyebutkan ia adalah seorang Gujarat, India, keturunan Arab.
Yang pasti kedatangan Jan Pieterszoon Coen yang menjadi Gubernur Jenderal pertama VOC menghancurkan Jayakarta pada 1619 dan membangun sebuah cikal bakal kota modern di muara Ciliwung yang ia namakan Batavia dari tempat yang dulunya sebuah perkampungan besar dekat pelabuhan Sunda Kalapa. Kota modern ini dibangun dengan dilengkapi benteng, kastil, kanal air, jalan besar, dan berbagai gedung yang mendukung.
Nama Batavia dipakai hingga tahun 1942, ketika Jepang masuk dan ingin menarik hati penduduk Jakarta saat itu agar mendukungnya di perang dunia II, maka nama Batavia diubah menjadi Jakarta.
Lalu apakah kota Jakarta berdiri berdasarkan dongeng? Sudah banyak catatan kritis tentang sejarah Jakarta. Kita sebagai penduduk Jakarta tentu baik untuk tahu sejarah tempatnya, karena dengan belajar sejarah kita akan bisa merancang masa depan dengan lebih baik. Tak perlu mengulang-ulang kesalahan yang pernah terjadi. [budi pruwanto]

posted under wacana

Email will not be published

Website example

Your Comment:

 
BelanjaDiskon.com