Monumen Nasional
”Tidak, saudara-saudaraku. Kita tidak membangun sebuah Monumen Nasional yang berharga setengah juta dolar hanya untuk membuang uang. Tidak! Kita sedang membuat ini, karena kita menyadari bahwa sebuah bangsa yang hebat, jiwanya dan hasratnya adalah kebutuhan yang absolut untuk kehebatannya, harus disimbolkan dengan sebuah benda materiil, sebuah benda yang hebat, yang kadang akan membuka mata dari bangsa-bangsa lain dengan penuh kekaguman.” (Pidato Bung Karno saat pemancangan pondasi Masjid Istiqlal, 24 Agustus 1961).
…
Aku menyempatkan diri mengunjungi monas, bukan cuma ingin menikmati kota metropolitan Jakarta dari puncak monas, bukan pula hanya sekedar melewatkan waktu mengagumi kebesaran suatu monumen nasional, tetapi belajar dari masa lampau. Banyak yang bisa dipelajari dari sejarah. Baik awal pembangunan maupun makna di balik sekedar bentuk fisik. Monumen ini dibangun sejak tahun 1961 pada masa Presiden Sukarno hingga selesai tahun 1975 masa Presiden Suharto. Pada saat awal pembangunan banyak dikecam karena dianggap proyek mercusuar padahal saat itu kondisi ekonomi bangsa terpuruk. Tetapi pembangunan terus berjalan hingga Presiden Soeharto.
Monumen ini berbentuk lingga-yoni (alu-lumbung), simbol keperkasaan dan kesuburan, dibangun untuk mengenang pejuang2 kemerdekaan Indonesia. Di atas Monas terdapat patung api/ nyala obor berlapis emas, menjadi lambang kobaran api semangat perjuangan bangsa. Itu sekilas tentang Monas.
Tugu Monas terletak di pusat kota Jakarta, karena memang sejak 1980an Monas ini menjadi titik nol Jakarta. Untuk mencapai Tugu Monas, pengunjung bisa dari arah manapun yang menuju Gambir, karena stasiun kereta ini memang terletak di area Monas. Untuk pengunjung bersepeda motor atau mobil biasanya juga menitipkan mobil di Stasiun Gambir. Di bagian selatan, ada juga pelataran parkir motor dan mobil. Di sebelah utara dan barat terdapat halte TransJakarta.
Monas dilengkapi taman dengan jalan berbatu yang bisa digunakan untuk refleksi telapak kaki dengan cara melewatinya dengan kaki telanjang. Di sebelah Barat ada pula dibangun air mancur “menari” dengan iringan musik dan ditambah pancaran sinar-sinar laser membentuk berbagai macam adegan. Atraksi ini biasanya setiap Sabtu mulai pukul 19.00 dan 20.00. Banyak pengunjung yang khusus hadir bersama keluarga menikmati atraksi ini. Patung monas pun juga ditambah dengan penerangan berbagai macam sinar yang berganti-ganti saat malam menambah keindahannya.
Untuk masuk ke dalam dan naik ke atas pada hari libur sangat ramai, antrean panjang menanti anda, apalagi jika ada rombongan wisata. Waktu kunjungan monas seperti tertera di loket adalah pk 08.30-17.00 WIB. Buka setiap hari untuk umum, kecuali hari senin minggu terakhir setiap bulan tutup. Saat bulan puasa biasanya jadwal diubah pk 08.30 - 15.30 WIB.