Apr 18 2008
Gudeg Yogyakarta di Jakarta
Malam itu hari Sabtu malam, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, kepingin makan malam, dan jatuhlah pilihan ke Gudeg Yogya. Kami meluncur ke Rumah Makan Yogya di bilangan Pancoran.
Jika Anda berasal dari Yogyakarta atau sempat tinggal di sana dan sekarang kangen dengan masakan khasnya, segera datangi Rumah Makan Yogya di Jalan Tebet Barat Dalam VII/27, Jakarta Selatan. Rasa kangen Anda akan terobati.
Sesuai dengan namanya, rumah makan ini memang mengusung menu-menu bercita rasa Yogya. Lidah para pengunjung dimanjakan dengan beragam menu spesial khas Yogya, seperti nasi gudeg komplit hingga ayam goreng kalasan. Sebagai teman makan nasi, disediakan pilihan tempe dan tahu bacem.
Kombinasi daging ayam dan bumbu khas Yogya membuat ayam goreng kalasan terasa gurih dan renyah. Sebelumnya daging ayam direbus hingga empuk sehingga siap diolah dalam bentuk apapun atau dikombinasikan dalam menu apapun. Olahan daging ayam juga dipakai untuk menemani menu nasi gudeg, nasi rames, nasi goreng, dan soto ayam.
Menu lainnya yang tidak kalah menarik yang disajikan adalah nasi rames, salad komplit, bistik komplit, tongseng, dan rawon. Nasi rames terdiri dari nasi putih, ayam goreng, tempe kering, telur pindang, dan acar. Sedangkan nasi gudeg berisi nasi putih, ayam opor, telur pindang, dan sambal goreng krecek yang disiram kuah sambal goreng krecek.
Sebenarnya tongseng di rumah makan ini juga mampu menggigit lidah. Irisan daging kambingnya besar, kuahnya kental dan mantap. Sayang, terlalu berminyak dan jadi blenyek. Rasanya enggan menghabiskan seporsi tongseng sendirian. Berbeda ketika mencicipi rawon yang bumbunya pas dan irisan dagingnya pun besar. Dalam sekejap saja, semangkuk rawon ludes.
Isi salad dan bistik agak mirip, yaitu kentang goreng, wortel dan buncis rebus, telor pindang yang dibelah unik, daun selada, irisan tomat dan bawang bombay. Yang membedakan salad dan bistik hanya adanya semacam mayones yang diolah secara tradisional pada salad. Semua ditempatkan dalam satu piring bersama kuah berwarna coklat yang rasanya manis.
Rasa masakan di sini cenderung manis, seperti kebanyakan rasa masakan Jawa. Namun, bagi penyuka pedas, Anda bisa meminta cabai rawit atau sambal. Pada beberapa menu sudah ada cabai rawitnya, seperti nasi gudeg, nasi rames, dan tongseng.
Rumah makan berkapasitas 65 kursi ini didirikan pada 1962 oleh Bapak Siswosumarto dan kini dijalankan oleh putrinya yang biasa dipanggil Ibu Sulamin. Selain siap menyambut tamu-tamu yang datang setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, rumah makan ini juga menerima pesanan. Cukup telepon ke 8292519, menu nasi gudeg, nasi rames, atau ayam goreng kalasan segera meluncur ke tempat Anda.
Mereka juga menjual aneka oleh-oleh, diantaranya peyek kacang, abon sapi, dan brem. Sebagian besar oleh-oleh didatangkan dari Toko Oleh-Oleh Mesran di Kota Solo yang dikirim seminggu sekali sebanyak rata-rata enam dus besar. Sementara itu, abon sapi cukup dibeli di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.
Untuk melegakan tenggorokan usai makan, kami mencicipi minuman tradisional yang katanya diracik sendiri, yaitu beras kencur dan kunyit asam. Selain itu sebenarnya tersedia juga air jahe, sekoteng, temulawak, dan gula asam. Semua bisa dihidangkan panas atau dingin sesuai selera Anda. Selain itu, es lidah buaya atau es rumput laut bisa menjadi pilihan minuman sebagai pelengkap bersantap.
Popularity: 29% [?]

wah mas aku mauuu…. salam buat balin yah…
Lucuna…..
Di Citra Raya juga ada rumah makan yang jual Gudeg Jogja. Namun, di mana pun aku makan gudeg kok rasanya tidak sesedap gudeg yang di Jogja ya?
Sudah jadi Budi Winarno rupanya?
Hehe..
Halo Mas!
Wah… jadi ingin makan gudeg, nih. Apalagi tengah malam gini, pas warung gudeg di Jojka baru pada buka. Sayang, terpisah samudera, hehehe…
Di surabaya juga banyak, tapi nggak tahu, asli dari jogja atau tidak?
menu yang mantab mas pru, hehehehe
gudeg termasuk menu kesukaanku juga, apalagi minumannya khas tradisional jawa. tapi ketika di jakarta kok agak sulit ya menemukannya, yak?