Jun 06 2008

Ikan Bakar Muara Karang

Published by budi at 4:46 pm under kuliner

ikan bakar dan cumi

Malam itu ada Wary, sahabatku yang selama ini bekerja di Singapore, kami merencanakan makan malam yang spesial, bukan mewah tapi lain dari yang lain. Maka seturut ide Lani, sahabat kami juga, kemudian mereka dan aku serta istriku pun menuju Ikan bakar Muara Karang. Masalahnya kami semua belum ada yang tahu rute jalan ke sana. Ada GPS Nokia yang baru terpasang di mobil Lani, tapi apa daya tak ada point of interest Ikan Bakar Muara Karang. Nah bertanya-tanyalah kami pada sobat masing2 via telpon. Hmm sayang jawabannya pun beragam, ada yg bilang deket Muara Baru, dan menujulah kami ke sana setelah melalui Gunung Sahari sampai mentok, Ancol, belok kiri.

Namun apa daya kami salah jalan, itupun setelah kami melalui genangan rob–banjir akibat air laut pasang–yang ujung-ujungnya mobil Lani harus dicuci dan didakwa oleh tukang cuci besoknya,” Mbak mobilnya bau amis banget, baru nyemplung ke laut yah?” atau lagi,”Mbak jualan ikan yah…?”, hehe agak-agak hiperbolis sih.. tapi masalah tersesat menuju Muara Karang yang ini memang bener.

penjual ikan muara karang

Setelah berputar2 melewati Perumahan Pluit, tanya 2-3 kali ke warung, tukang ojek, dan tukang becak.. akhirnya kami on the track kemudian melalui jalan sempit dengan orang di kiri-kanan berjualan ikan. Setelah melewati jalan becek-sempit-padet-penuh penjual ikan itu, lalu ada tempat parkir di sebelah warung yang khusus untuk mengolah dan membakar ikan hasil beli di tempat pelelangan ikan. Tempat penjualan ikan tak kalah bau amis, becek, dan pokoknya crowded. Hati-hati kalau berjalan, lihat kanan-kiri dan bawah. Bahkan mungkin kalau perlu pakai sepatu bot, dijamin berguna.

pusat jajan serba ikan

Berbagai macam ikan, cumi, udang, pokoknya segala macam binatang laut fresh from the sea… (yang bisa dimakan) ada di situ. Setelah tawar-menawar dan keliling-keliling, kami bawa hasil “buruan” kami ke salahsatu warung. Ada banyak pilihan warung yang buka hingga tengah malam menjelang dini hari itu. Mungkin ada sekitar 20 warung. Kami pilih salahsatu warung yang masih buka dan kebetulan masih ada beberapa orang makan di situ, warung yang lain sudah sepi, kalaupun ada hanya ada sepasang orang yang sedang makan. Kami ditawari mau dimasak apa ikan dan cuminya, ada bumbu saus tiram dan bumbu padang, dan kami pilih keduanya, plus ikan bakar serta minuman jeruk dan teh hangat.

tempat pelelangan ikan

Butuh waktu 20-30 menit untuk membakar ikan dan mengolah cumi. Setelah itu mengalirlah nasi hangat dan makanan2 sedap itu ke meja.. siap disantap. Menurutku rasanya sih enak, yaah worth it dengan waktu menunggu dan perjalanan menuju Muara Karang. Hasil bakaran rata, gak terlalu gosong tapi matang semua. Olahan bumbu menurutku juga tak kalah dengan restoran seafood. Ada dua pilihan tempat makan, bisa lesehan atau pake meja. Kami pilih pakai meja karena ada anakku yang tidur dalam gendongan, dan kadang-kadang bangun.

Nasi berhasil dihabiskan, ikan bakar tandas, cuman cumi yang tersisa yang kami bawa pulang. Total malam itu kami habis sekitar 200.000 untuk berempat. Tempat makan ini menarik, menjanjikan masakan yang lain daripada yang lain. Selain itu tempatnya juga spesial, dekat dengan tempat pelelangan ikan sehingga bisa mengolah ikan segar langsung. Sayang tidak ada petunjuk jalan yang membuat orang baru (bahkan orang yang sudah pernah ke sana!) dengan mudah menemukan tempat ini. Tempatnya yang becek-sumpeg-rame-bau itupun kalau bisa ditata sedemikian rupa, tentu akan membuat pengunjung penggemar kuliner akan bertambah berlipat-lipat.

Popularity: 27% [?]

4 Responses to “Ikan Bakar Muara Karang”

  1. arion 07 Jun 2008 at 12:05 pm

    Bisa jadi tempat yang beceg-sumpeg-ruame merupakan sensasi berwisata kuliner di sana. Tapi akan lebih baik kalo pasar ikan dan pusat jajan serba ikan Muara Karang dikembangkan menjadi salah satu the best point of interest Jakarta. Tentu perlu kerjasama antara para pedagang, pemerintah, dan masyarakat setempat. Nyok rame-rame bagusin pasar ikan Muara Karang!

  2. LannyProboon 12 Jun 2008 at 2:23 pm

    Sudah bertahun2 lamanya keadaan di Muara Karang tidak berubah, bahkan dapat dikatakan semakin ruwet… Ahh… namun, tetap banyak pengunjungnya… Mungkin, salah satu daya tariknya adalah yaa… kekurangannya itu… letaknya agak jauh dari pemukiman warga, si pembeli harus membeli sendiri di pelelangan yang ruwet dan sumpeg, belanja berbaur dekat dengan penjual yang notabene ‘amis2′ itu.. hehe.., harus tawar-menawar sambil memeriksa keadaan ikan2nya, ber’becek’ ria, dan sebagainya… sampai akhirnya memilih sendiri tempat resto yang dianggap nyaman dan kira2 dapat menyajikan hasil masakan yang terbaik… Namun, bagi saya pribadi, hal ini menyenangkan… Sungguh berbeda dengan hanya duduk di resto seafood, memesan, menyantap, pulang. Terlebih… bila ke Muara Karang beramai-ramai… Ahhh…. sungguh menyenangkan…
    Memang sungguh polemik, mengapa walikota Jak-Ut, Effendi Anas, tidak berbuat sesuatu… Setahu saya, dahulu, yang menangani adalah perusahaan Real Estate ‘Jawa Building Indah Company’… Ahh… sudahlah… Nyok, Rame2 ke Muara Karang!!!!

  3. muhamad yusufon 18 Jun 2008 at 1:50 pm

    Muara Karang dulu sampe sekarang becek terus…
    dulu namanya Muara Angke…mungkin karena baunya kayak bangke kali ya?

    kebetulan dulu bokap kerja dipelelangan ikan di muara karang ini …
    gara2 bikin pujaseri ini, sempet masuk poskota beberapa kali kali …heheheh

  4. Roy Thaniagoon 23 Jun 2008 at 5:01 pm

    Kerjaannya sekarang jadi pemburu kuliner ya, mas? hehehe..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Budi Pruwanto's Facebook profile