Jun 25 2008
Hola Nona Bola!
Bukan karena demam Piala Eropa 2008 yang sedang berlangsung di Austria dan Swiss, aku makan di Restoran Nona Bola, Jalan HOS Cokroaminoto 90, Menteng, Jakarta Pusat. Semata-mata sebagai dukungan terhadap suami tercinta yang sedang mengerjakan tesis, aku menemaninya untuk ngobrol santai dengan Sastro Gozali, pendiri sendokgarpu.com.
Lepas pukul 18.00 WIB, aku memasuki ruangan di bawah Gandy Steak House yang masih satu grup dengan Nona Bola itu. Meskipun namanya Nona Bola, tidak ada ornamen atau aksesoris berkaitan dengan bola di dalamnya. Tidak ada senyum atau sapa menyambut kedatanganku seperti yang biasa kurasakan ketika memasuki sebuah restoran. Aku pun mencari tempat sendiri di antara deretan kursi yang kosong.
Mungkin karena belum waktunya makan malam maka restoran ini sepi, pikirku. Namun ternyata hingga satu jam kemudian, bahkan saat kami selesai wawancara sekitar pukul 20.30 WIB, restoran ini tetap sepi. Alhasil, kami menahan dinginnya AC yang memenuhi ruangan yang berpenghuni sedikit itu. Padahal dalam dua kali kunjungannya ke sini, menurut suamiku, restoran yang direkomendasikan sahabatnya (dr. Herbert, SpOG) ini cukup ramai. Entah mengapa malam ini sepi.
Sastro yang baru pertama kali berkunjung ke restoran ini memesan Mie Udang Malaya Special dan Teh Hangat. Suamiku yang sudah kali ketiga berkunjung ke sini memesan Nasi Lemak Malaya Special dan Kopi O. Sedangkan aku yang juga kali pertama ke sini memesan Es Kacang Malaya, Laksa Nona Special, dan Teh Tarik.
Es Kacang Malaya terdiri dari campuran kacang merah (kesukaanku!), nata de coco, agar-agar warna merah dan hijau, serta cincau hitam. Sebenarnya minuman ini masuk dalam daftar hidangan penutup (dessert), tapi aku tak tahan untuk segera menikmatinya sebagai hidangan pembuka (appetizer) sambil menunggu Sastro datang. Rasanya sungguh mantap, dashyattttttt…. Es serut yang ditaburi susu kental manis dan aneka sirup itu perlahan lumer dan menggoyang lidahku. Sensasinya berbeda dengan ketika aku menikmati es kacang merah di tempat lain.
Sementara itu, Laksa Nona Bola yang kuharapkan makin melengkapi nikmatnya makan di restoran ini justru agak jauh dari harapan. Semangkuk laksa yang didalamnya terdapat dua ekor udang dan empat potong (semacam) otak-otak terasa hambar melewati lidah dan tengorokanku. Padahal makanan ini menjadi salah satu menu spesial restoran ini.
Teh Tarik hangat yang disajikan tak mampu mengobati kekecewaanku. Susunya terlalu banyak sehingga mengaburkan rasa tehnya. Lebih enak minum teh tarik kemasan yang biasa kuseduh di rumah, pikirku. Semoga Sastro yang biasa membuat review restoran di situsnya dan suamiku yang merekomendasikannya bagi kami tak mengalami hal yang sama:-p
Suara musik yang mengalun merdu menemani kami menghabiskan menu makan malam di restoran yang berdiri sejak 2006 ini. Sayangnya suara merdu itu sesekali dirusak oleh suara berisik dari atas plafon ruangan. Kedengarannya seperti suara tikus yang berlarian, tapi mudah-mudahan bukan binatang pengerat itu.
[Citra: scan menu nona bola]
Popularity: 20% [?]

