“Web 2.0 itu revolusi bukan sekedar buzzword…!”, kalimat itu begitu ditekankan Budiputra.
Malam itu, di sebuah cafe di bilangan scbd jakarta berlangsung obrolan hangat meski dingin hujan di luar. Kesempatan bertemu Budiputra–blogger penuhwaktu pertama di indonesia–tak aku sia-siakan dan memang mencerahkan walau untuk bisa ketemu sebelumnya harus menembus amukan hujan mengguyur Jakarta. Berita gembiranya Mas Budiputra akan membantuku membuat thesis.
Obrolan tentang teknologi blog terelaborasi menjadi diskusi tentang teknologi web 2.0 yang merupakan revolusi media baru. Revolusi dalam web 2.0 audien tidak hanya pasif sebagai pembaca media, tetapi justru memproduksi kontennya. Dengan web 2.0 terjadi revolusi paradigma, inilah mengapa muncul julukan 2.0 menggantikan teknologi web yang sekarang ada. Sebenarnya, secara teknologi, web 2.0 bukan barang baru, tetapi secara sistem adalah inovasi anyar dan masih terus berkembang sehingga memunculkan teknologi-teknologi yang mendukungnya secara khusus untuk memudahkan pengembangan dan implementasinya. Continue Reading »
Pengalaman dan penderitaan masa lalu melahirkan sebuah tekad dan kesadaran hidup, Perbedaan dan Keberagaman merupakan Anugerah, Budaya Luhur mempraktekkan satu hal untuk saling menghormati dan harmoni antara agama, etnis, dan budaya agar tetap terjaga penuh dengan ikhlas dan damai. Semua ini karena karunia Tuhan, warga Cigugur mengungkapkan rasa syukur yang diungkapkan dalam sebuah upacara SEREN TAUN. Begitulah kalimat indah tercetak di banner yang terpasang di sekitar tempat upacara seren taun.
Seren Taun merupakan gelar budaya masyarakat agraris Sunda, Cigugur, Kuningan. Seren berarti menyerahkan, diartikan penyerahan hasil panen (padi) sebagai wujud syukur dan permohonan perlindungan Tuhan untuk tahun yang akan datang. Padi bagi masyarakat Jawa Barat tidak dapat dipisahkan dengan kisah Dewi Sri sebagai lambang kesuburan. Continue Reading »
Masyarakat Sunda adalah masyarakat agraris. Sebagian besar masyarakat ini hidup sebagai petani. Saat merayakan tahun baru, mereka sekaligus bersyukur kepada Tuhan atas segala anugerah (panen) pada tahun sebelumnya dan berdoa untuk berkah serta perlindungan-Nya pada tahun selanjutnya. Ritual upacara doa dan syukur ini dirayakan sebagai “Seren Taun” oleh masyarakat Sunda di Cigugur, Kuningan, setiap tanggal 22 bulan Rayagung –bulan terakhir pada penanggalan Sunda- atau kali ini dirayakan mulai 16 Desember 2007 hingga 1 Januari 2008. Continue Reading »
”Tidak, saudara-saudaraku. Kita tidak membangun sebuah Monumen Nasional yang berharga setengah juta dolar hanya untuk membuang uang. Tidak! Kita sedang membuat ini, karena kita menyadari bahwa sebuah bangsa yang hebat, jiwanya dan hasratnya adalah kebutuhan yang absolut untuk kehebatannya, harus disimbolkan dengan sebuah benda materiil, sebuah benda yang hebat, yang kadang akan membuka mata dari bangsa-bangsa lain dengan penuh kekaguman.” (Pidato Bung Karno saat pemancangan pondasi Masjid Istiqlal, 24 Agustus 1961).
…
Aku menyempatkan diri mengunjungi monas, bukan cuma ingin menikmati kota metropolitan Jakarta dari puncak monas, bukan pula hanya sekedar melewatkan waktu mengagumi kebesaran suatu monumen nasional, tetapi belajar dari masa lampau. Banyak yang bisa dipelajari dari sejarah. Baik awal pembangunan maupun makna di balik sekedar bentuk fisik. Monumen ini dibangun sejak tahun 1961 pada masa Presiden Sukarno hingga selesai tahun 1975 masa Presiden Suharto. Pada saat awal pembangunan banyak dikecam karena dianggap proyek mercusuar padahal saat itu kondisi ekonomi bangsa terpuruk. Tetapi pembangunan terus berjalan hingga Presiden Soeharto. Continue Reading »
“Kekacauan yang dialami bangsa Indonesia saat ini disebabkan kurang kesadaran sejarah, sehingga bangsa ini tidak tahu dari mana harus berangkat menata masa depannya. Untuk mengatasi kemelut negeri ini, harapan ditumpukan pada angkatan muda. Mereka haruslah memahami sejarah bangsa dan memandang segala persoalan secara dialektik.” Pramoedya Ananta Toer.
Jakarta bagai magnet dan situasi di Jakarta dianggap barometer situasi-situasi di daerah lain Indonesia. Pembangunan di Jakarta mungkin bisa dibilang paling pesat diantara semua kota di Indonesia, tak kenal waktu pembangunan di Jakarta berjalan. Banyak gedung dibangun terus menerus selama 24 jam. Kehidupan orang-orangnya pun seolah tanpa istirahat. Lihat saja acara TV yang tak pernah berhenti siap menemani pemirsa sepanjang waktu.
Tahun ini Jakarta merayakan Ulang tahunnya yang ke 480. Sudah banyak di media lain membahas tentang perkembangan Jakarta di ulangtahunnya yang hampir setengah abad ini. Marilah kita menelisik sudut pandang lain, yaitu sejarah Jakarta. Ternyata sejarah Jakarta banyak diperdebatkan, ulang tahun Jakarta yang diklaim tanggal 22 Juni pun tidak luput dari banyak beda pandangan pakar-pakar sejarah. Continue Reading »
Katedral Padang terletak persis di depan Hotel Bumi Minang, tempat singgah sementara karena pesawat AirAsia yang seharusnya mengantar kami ke Jakarta dibatalkan.
Ketika matahari masih malu menampakkan diri, sekitar pukul 05.15, beberapa orang sudah mulai memasuki katedral itu. Suasana asri, ada taman di samping gereja. Gedung gereja peninggalan Belanda ini tampak sederhana dan khas.
Ruangan yang ada di dalam cukup luas dan tentu tinggi. Lampu penerangan yang tergantung di atas juga unik. Di belakang gereja ada tempat berdoa dengan tempat menyalakan lilin, simbol pengorbanan untuk menerangi sekitarnya.
Pk 13.00 kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Bukittinggi, kami tak sempat melihat bagian lain dari Lembah Harau yang terlihat dari jauh ada lagi beberapa air terjun yang berdekatan. Perjalanan lancar dengan cuaca agak gerimis, di Payakumbuh kiri-kanan jalan tetap saja kami menikmati pemandangan bernuansa etnis minang dengan rumah-rumah gadangnya. Sampai di Bukittinggi kami sempatkan makan siang dulu, berpamitan dengan teman2, Ary dan Hery, teman2 alumni smatn, yang keduanya tak bisa kami jumpai langsung. Mengembalikan mobil dan berbarengan menyewa mobil travel di halte sebelah hotel Dymens tempat kami menginap. Angkutan travel ini sering digunakan untuk trayek Padang-Bukittinggi bertarif 15000/orang, biasanya berupa Kijang kapsul atau APV sehingga muat untuk 9 orang, 10 termasuk sopir. Kami ingin secepatnya menuju Bandara karena jam sudah menunjuk pk 15.30 hitungannya harus sampai di bandara dalam waktu 1,5 jam! Goklas mengompori sopirnya biar bisa sampai sesegera mungkin di bandara, dan dengan kecepatan yang rata-rata 90km/jam di jalanan yang berliku itu kami memang bisa pas nyampe di bandara pk 17.00 wuihhh… turun dari travel langsung menarik napas lega. Continue Reading »
Setelah itu kami meluncur ke Pasar Atas, banyak jalan yang satu arah dan belum banyak kenal jalan sehingga meski sebenarnya tidak jauh, tetep aja muter-muter dulu baru sampai. Mulailah kami menyebar mencoba tawar-menawar membeli oleh-oleh, baju, dan makanan, karipik sanjay yg bisa dimakan banyak orang hehe..
Pk 10.45 kami baru pulang ke hotel dan bergegas menata baju dan perlengkapan lainnya, bersiap pulang. Selanjutnya kami masih menimbang-nimbang mau ke lembah harau gak yah.. Pesawat takeoff pk 17.45, jadi palinglambat pk 17 di Bandara, amannya pk 15 sudah harus berangkat dari Bukittinggi. Perjalanan ke Lembah Harau diperkirakan 3 jam PP melewati Payakumbuh, belum makan siang dan menikmati pemandangan. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat tetapi kami sudah persiapkan barang-barang biar bisa segera cabut sesampai di Bukittinggi lagi.
Hari ini hujan turun tiada henti mulai dini hari hingga siang. Kami memang kecapekan juga sepulang dari Solok hingga tengah malam. Jadilah hari ini bersantai istirahat, mampir ke warnet di sebelah kantor pos Bukittinggi yang ternyata lelet banget, sekalian ngecek penerbangan pulang, siapa tahu ganti jadwal, maklum airasia gitu lhoo.
Siang itu kami mendapat undangan makan sekali lagi dari Hery di restoran Simpang Raya. Jadilah kami menghabiskan siang hingga sore sembari makan dan ngobrol. Sepulang makan kami mendapat pinjaman motor dari Hery, namun cuaca yang tetap hujan menghalangi kami berkeliling Bukittinggi dengan motor. Goklas tidur lagi, dan aku bersama Arcon makan sore di Restoran Sederhana, mencoba mencicipi Roti Cane dan Martabak mesir yang ternyata tak terlalu istimewa. Continue Reading »
Perjalanan menuju Danau Singkarak dari Padangpanjang tak terlalu lama, hanya 30 menit. Dan kami mulai mencari tempat parkir di pantainya. Masuk menuju tempat wisata Tanjung Mutiara, ternyata tempat wisata tersebut tak begitu menarik. Ada perahu wisata yang bisa disewa untuk berkeliling di sekitar danau, muat sekitar 20an orang, ada perahu yang dikemudikan berdua. Tapi sangat jarang pengunjung yang memanfaatkan perahu itu, mungkin sewanya yang juga cukup mahal. Yang banyak adalah anak-anak kecil berenang di pantainya. Cuaca lumayan cerah namun berawan tebal, di beberapa sudut danau masih bisa terlihat kecantikan tersembunyi Danau Singkarak yang menunggu penataan lebih lanjut. Ya, keindahan itu masih terkubur.